KONTAN.CO.ID - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat meski kedua negara baru saja menyepakati perjanjian damai sementara untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama empat bulan. Iran melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke sejumlah pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain pada Minggu (28/6) dini hari, beberapa saat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan meningkatkan operasi militer apabila Teheran tidak mematuhi kesepakatan damai.
Baca Juga: Meski Sudah Ditolak, GameStop Tetap Ngotot Hendak Akuisisi eBay Di saat yang sama, Israel mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap kelompok bersenjata Hezbollah yang didukung Iran di Lebanon selatan. Serangan itu terjadi hanya sehari setelah Israel dan Lebanon kembali menyepakati gencatan senjata yang dimediasi AS. Sebelumnya, militer AS juga mengaku kembali menyerang sejumlah target di Iran menyusul serangan drone terhadap sebuah kapal tanker berbendera Panama di Selat Hormuz, jalur pelayaran energi terpenting dunia yang selama konflik sebagian besar dibatasi oleh Teheran. Trump memperingatkan Iran melalui media sosial bahwa Washington siap mengambil langkah militer yang lebih besar apabila situasi terus memburuk. "Akan tiba saatnya kami tidak lagi bisa bersikap masuk akal dan akan dipaksa menyelesaikan secara militer apa yang telah kami mulai dengan sangat sukses," tulis Trump. Ia menambahkan, "Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi."
Baca Juga: Korea Selatan dan Jepang Tegaskan Komitmen Denuklirisasi di Semenanjung Korea Gencatan senjata kembali diuji Perjanjian damai sementara yang terdiri dari 14 poin tersebut sebelumnya dirancang untuk menghentikan perang yang dimulai sejak 28 Februari, membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, sekaligus membuka ruang perundingan mengenai program nuklir Iran dan isu strategis lainnya. Sepekan lalu, Iran dan AS telah menggelar putaran pertama perundingan yang dimediasi di Swiss. Pertemuan tersebut dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf.
Baca Juga: Favorit Masih Perkasa, Tim-tim Afrika Jadi Kejutan di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026 Setelah perundingan itu, Washington juga melonggarkan sebagian sanksi terhadap Iran. Namun, pertempuran kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir. Sekitar satu jam setelah pernyataan Trump, militer Kuwait mengumumkan sistem pertahanan udaranya mencegat serangan rudal dan drone, sementara otoritas Bahrain melaporkan sirene peringatan serangan udara kembali dibunyikan. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi telah meluncurkan operasi gabungan rudal dan drone yang menargetkan fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain. Menurut IRGC, serangan tersebut merupakan respons atas aksi militer AS yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata. Media pemerintah Iran, Press TV, mengutip pernyataan IRGC yang menyebut serangan AS akan "menghentikan seluruh proses diplomatik." Komando Angkatan Laut IRGC juga memperingatkan bahwa pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Teluk akan "mengalami neraka dalam beberapa hari ke depan." Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa hingga saat ini tidak terdapat korban jiwa maupun kerusakan besar di fasilitas militer AS akibat serangan tersebut. Namun, situasi masih terus berkembang. Beberapa jam kemudian, Bahrain kembali mengaktifkan sirene peringatan setelah sebuah bangunan permukiman di Provinsi Muharraq dilaporkan rusak akibat serangan Iran. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Pemerintah Bahrain mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera menggelar sidang darurat untuk meminta pertanggungjawaban Iran. Sementara itu, militer Kuwait menyatakan berhasil mencegat dua rudal balistik tanpa menimbulkan korban maupun kerusakan.
Baca Juga: Denda Medsos: Australia Kaji Lipat Ganda Hukuman Raksasa Teknologi! Selat Hormuz kembali menjadi pusat ketegangan Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) sebelumnya menyatakan telah melancarkan serangan baru terhadap sejumlah fasilitas militer Iran setelah sebuah kapal tanker berbendera Panama diserang drone Iran pada Sabtu (27/6). Menurut CENTCOM, serangan tersebut menyasar fasilitas pengawasan militer, sistem komunikasi, pertahanan udara, gudang drone, serta fasilitas penempatan ranjau milik Iran. "Iran telah diberi kesempatan untuk menghormati kesepakatan gencatan senjata, tetapi memilih untuk tidak melakukannya," kata CENTCOM.
Baca Juga: Iran Serang Pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain, Gencatan Senjata Kian Rapuh Media pemerintah Iran IRIB melaporkan terdengar ledakan di wilayah Sirik, Iran selatan. IRGC menegaskan serangan AS tidak akan mengubah dominasi Iran atas Selat Hormuz. "Serangan membabi buta Amerika di Sirik tidak akan mengakhiri dominasi kami atas Selat Hormuz. Serangan kami akan mengingatkan setiap kapal mengenai jalur pelayaran yang harus dipatuhi," demikian pernyataan IRGC. Serangan terhadap kapal tanker pada Sabtu merupakan insiden kedua dalam tiga hari terakhir setelah sebelumnya sebuah kapal kargo juga diserang di Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa tanggung jawab mengembalikan arus pelayaran ke tingkat normal sepenuhnya berada di tangan Iran. Ia juga meminta negara lain tidak mencampuri pengelolaan Selat Hormuz. Sementara itu, AS terus mendorong kapal-kapal internasional menggunakan jalur pelayaran di sepanjang pesisir Oman. Sebaliknya, Iran menginginkan seluruh kapal melintasi jalur utara yang berada di bawah pengawasannya dan berencana mengenakan biaya penggunaan jalur tersebut. Meski demikian, ratusan kapal yang sebelumnya tertahan di kawasan Teluk mulai kembali berlayar dalam dua pekan terakhir sehingga harga minyak dunia sempat turun mendekati level sebelum konflik. Perusahaan pelayaran CMA CGM menyatakan kapal kontainer Galapagos telah berhasil keluar dari Selat Hormuz, yang disebut sebagai perkembangan penting meski situasi keamanan kawasan masih memerlukan kewaspadaan tinggi.
Baca Juga: Teknologi Canggih Kanedevia Entitas Swiss Kelola Sampah di Tengah Pemukiman Israel lanjutkan operasi di Lebanon Di Lebanon, militer Israel mengatakan telah menewaskan sejumlah anggota Hezbollah yang membawa peluncur granat roket serta menghancurkan peluncur roket di wilayah Nabatieh. Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari Hezbollah.
Israel dan Lebanon telah beberapa kali menyepakati gencatan senjata yang dimediasi AS, termasuk kesepakatan terbaru pada Jumat (26/6). Namun, implementasinya dinilai belum efektif.
Baca Juga: Kecerdasan Buatan Mendorong Kampus Tinggalkan Model Pembelajaran Konvensional Israel menegaskan tidak akan menarik pasukannya dari wilayah Lebanon yang telah dikuasai, sementara Hezbollah tetap menolak melucuti senjata selama pasukan Israel masih berada di wilayah tersebut. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menilai penarikan pasukan Israel dari Lebanon dan penghentian serangan ke negara itu merupakan bagian dari komitmen dalam kesepakatan damai sementara dengan AS. Menurutnya, Washington bertanggung jawab memastikan Israel menghentikan operasi militernya.