KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perusahaan logistik Eropa diperkirakan mencatat peningkatan laba pada kuartal I-2026, didorong oleh kompleksitas rantai pasok akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Namun, analis memperingatkan bahwa ketidakpastian geopolitik dan guncangan energi dapat membayangi prospek jangka panjang sektor ini. Sejumlah perusahaan logistik besar seperti DHL, DSV, dan Kuehne+Nagel dinilai diuntungkan dari meningkatnya kompleksitas distribusi global. Kondisi ini biasanya mendorong kenaikan tarif dan margin keuntungan, terutama ketika jalur perdagangan utama terganggu. Namun demikian, analis mengingatkan bahwa dampak lanjutan dari lonjakan harga energi dan pelemahan ekonomi global berpotensi menekan permintaan logistik pada paruh kedua tahun ini.
Baca Juga: Tesla Genjot Investasi Lebih dari US$25 Miliar untuk AI, Robotik, dan Chip Stabilitas Kinerja dan Potensi Kenaikan Laba
Dalam catatan kepada klien, analis dari Jefferies menyebut manajemen Kuehne+Nagel tidak memperkirakan adanya tekanan tambahan terhadap tarif angkutan laut maupun udara pada kuartal pertama. Hal ini memperkuat pandangan bahwa kinerja perusahaan mulai stabil dan berpotensi membaik. Selain itu, periode gejolak geopolitik secara historis mendorong peralihan pengiriman dari jalur laut ke udara (sea-to-air spillover), yang memberikan keunggulan struktural bagi DHL.
Kargo Udara Tumbuh Lebih Cepat
Analis Bernstein memperkirakan volume kargo udara akan tumbuh dalam kisaran satu digit tinggi (high single digit) pada kuartal ini. Sebaliknya, volume pengiriman laut diprediksi hanya naik dalam kisaran satu digit rendah secara tahunan. Pertumbuhan pengiriman laut tertahan oleh efek basis tinggi, setelah banyak pengirim barang mempercepat pengiriman sebelum penerapan tarif impor AS pada April 2025. Fokus pasar juga tertuju pada agenda capital markets day DSV pada 12 Mei mendatang, di mana investor menantikan pembaruan target keuangan jangka menengah. Bernstein menilai potensi kejutan positif cukup besar dalam agenda tersebut.
Konflik Timur Tengah Ganggu Rantai Pasok Global
Eskalasi konflik di Timur Tengah turut memperburuk kondisi logistik global. Banyak kapal kini menghindari Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi dan barang, yang memperdalam ketidakpastian distribusi global.
Baca Juga: Arab Saudi dan Filipina Masuk Indeks Obligasi Emerging Markets JPMorgan Mulai 2027 Gangguan ini juga mendorong lonjakan biaya kargo udara, seiring meningkatnya permintaan, harga bahan bakar jet yang tinggi, serta keterbatasan kapasitas akibat gangguan berkepanjangan.
Dampaknya meluas hingga ke kawasan lain. Ketegangan yang meningkat juga memperbesar risiko di Laut Merah, sehingga memperlambat normalisasi jalur pelayaran melalui Terusan Suez. Ekonom senior ING Research, Rico Luman, menyebut pemulihan penuh jalur pelayaran kemungkinan tertunda beberapa bulan, bahkan hingga akhir tahun. Kondisi ini dalam jangka pendek justru mendukung kinerja perusahaan logistik.
Perubahan Rute dan Tarif Angkutan Tinggi
Perusahaan pelayaran global seperti Maersk dan Hapag-Lloyd telah mengalihkan rute kapal melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan sejak konflik pecah. Perubahan ini menjaga tarif angkutan tetap tinggi dan meningkatkan margin perusahaan karena struktur biaya yang relatif tetap. Meski demikian, analis menilai normalisasi pasar logistik global tidak akan terjadi dengan cepat, bahkan jika konflik mereda.