KONTAN.CO.ID - FRANKFURT. Perang di Iran memicu kekhawatiran gelombang inflasi baru, mendorong pasar uang memperkirakan kenaikan suku bunga oleh sejumlah bank sentral Eropa. Lonjakan harga energi akibat konflik ini memaksa investor menilai ulang strategi moneter, termasuk untuk European Central Bank (ECB), Swiss National Bank (SNB), dan Riksbank Swedia. Bank of England diperkirakan akan mengikuti langkah serupa pada 2027. Harga minyak mentah melampaui US$119 per barel, level tertinggi sejak pertengahan 2022, setelah produsen besar memangkas pasokan dan muncul kekhawatiran gangguan pengiriman minyak yang lebih lama.
Baca Juga: JPMorgan Kena Denda Bank Sentral Eropa Rp 240 Miliar, Apa Pelanggarannya? "Trauma kenaikan harga energi 2022 masih hidup di benak beberapa bankir sentral. Mereka akan sangat berhati-hati menghadapi risiko shock pasokan baru," ujar Frederik Ducrozet, kepala riset makro di Pictet Wealth Management. Data pasar menunjukkan ECB kemungkinan menaikkan suku bunga satu kali pada Juni atau Juli, kemudian kembali pada Desember. Riksbank diperkirakan melakukan satu atau dua kali kenaikan pada musim gugur. SNB diperkirakan bergerak pada Oktober, sementara BoE juga akan memulai siklus pengetatan pada 2027. Semua bank ini dijadwalkan menggelar rapat pada 18–19 Maret, tanpa aksi mendadak yang diantisipasi. Para pejabat, terutama di ECB, menekankan bahwa kenaikan minyak sementara akibat konflik Iran seharusnya tidak mengubah prospek inflasi jangka menengah secara signifikan.
Baca Juga: Lagarde Disebut Akan Mundur Lebih Cepat dari Jabatan Presiden Bank Sentral Eropa Namun, jika harga energi tinggi bertahan, inflasi zona euro bisa naik sekitar satu persen, sementara Inggris sedikit tertinggal, menurut analisis TS Lombard. Kenaikan harga bahan bakar juga akan memengaruhi biaya transportasi dan manufaktur, mirip dengan yang terjadi pada 2022. “ECB pada 2022 terlalu lama menunggu karena baru keluar dari dekade deflasi. Kini Dewan Gubernur akan lebih sigap untuk menghindari pengulangan situasi itu,” kata Marco Brancolini, kepala strategi suku bunga euro di Nomura.
Dilema utama bank sentral adalah apakah tetap mengikuti prinsip “look through” terhadap kenaikan harga energi sementara atau mengutamakan pengalaman pahit sebelumnya. Reinhard Cluse, ekonom UBS, menilai ECB bisa saja mempercepat kenaikan pertama karena risiko efek lanjutan dari harga energi yang terus tinggi.
Baca Juga: Uni Eropa Sepakat Bekukan Aset Bank Sentral Rusia Tanpa Batas Waktu Namun, beberapa ekonom menekankan pasar mungkin bereaksi berlebihan. Ducrozet menilai SNB paling kecil kemungkinannya menaikkan suku bunga karena penguatan franc Swiss, sementara Alberto Gallo dari Andromeda Capital Management menyoroti bahwa pergeseran harga mencerminkan pembalikan cepat dari perkiraan penurunan suku bunga sebelumnya. Marco Brancolini menambahkan, “Pergerakan pasar didorong oleh pelepasan posisi besar sekaligus lindung risiko, bukan hanya karena fundamental ekonomi.”