Konflik Iran- Israel-AS Picu Risk-Off, Dana Asing Rentan Keluar dari Pasar RI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memanasnya konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat berpotensi memicu sentimen risk-off di pasar global. Kondisi ini dikhawatirkan mendorong arus modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, mengatakan eskalasi konflik di Timur Tengah biasanya membuat investor global mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. “Memanasnya konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat umumnya memicu sentimen risk-off global. Investor global cenderung mengalihkan dana ke aset aman seperti dolar AS dan obligasi negara maju,” ujar Rizal kepada Kontan, Selasa (3/3/2026).

Baca Juga: Aliran Modal Asing Hengkang Rp 12,55 Triliun di Periode 26-29 Januari 2026 Menurutnya, bagi Indonesia kondisi ini berisiko mendorong capital outflow, terutama dari pasar saham. Hal ini karena pasar negara berkembang sering menjadi sumber likuiditas bagi investor global ketika ketidakpastian meningkat. Selain itu, lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik juga berpotensi menambah tekanan eksternal terhadap perekonomian domestik. Kenaikan harga energi dapat memicu inflasi sekaligus memperlebar defisit neraca migas. Rizal menilai pasar saham biasanya menjadi instrumen yang paling sensitif terhadap perubahan sentimen global. Sementara itu, pasar obligasi pemerintah relatif lebih tahan, meskipun tetap menghadapi risiko jika imbal hasil obligasi global meningkat dan investor asing mengurangi eksposur mereka. “Daya tarik imbal hasil domestik bisa menjadi penahan, namun arahnya sangat tergantung pada durasi konflik dan stabilitas global,” jelasnya.

Baca Juga: Aliran Modal Asing Keluar Capai Rp 5,96 Triliun, Premi Risiko Indonesia Menguat Dari sisi nilai tukar, rupiah juga berpotensi mengalami tekanan akibat penguatan dolar AS, arus keluar dana portofolio, serta kenaikan harga energi. Jika eskalasi konflik berlangsung dalam waktu lama, volatilitas rupiah diperkirakan akan meningkat. “Yang perlu diwaspadai adalah kombinasi outflow di saham dan obligasi secara bersamaan. Respons kebijakan Bank Indonesia dan kredibilitas fiskal pemerintah akan menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas,” tambahnya. Berdasarkan data Bank Indonesia, transaksi neto Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencatat capital inflow sebesar Rp 3,57 triliun pada periode 23–26 Februari 2026. Sementara setelmen neto SRBI mencatatkan arus masuk Rp 34,04 triliun sepanjang 2 Januari hingga 26 Februari 2026. Di sisi lain, data Bursa Efek Indonesia menunjukkan investor asing masih mencatatkan net sell atau capital outflow sebesar Rp 9,51 triliun di pasar saham secara year to date (YtD) hingga 27 Februari 2026. Sementara itu, berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko) Kementerian Keuangan, pasar Surat Berharga Negara (SBN) juga mencatat capital outflow sebesar Rp3,39 triliun hingga 26 Februari 2026.


Baca Juga: MSCI Picu Dana Asing Keluar, Rupiah Dinilai Tetap Terkendali

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News