Konflik Iran Mereda, Harga Minyak Masih Tekan di Pekan Kedua Februari 2026



KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak dunia sempat naik tipis pada Jumat (13/2/2026), tetapi tetap berada di jalur penurunan untuk minggu kedua berturut-turut. 

Tekanan harga datang setelah risiko konflik AS-Iran mereda dan prospek pasokan global mulai meningkat.

Harga minyak Brent naik 29 sen atau 0,4% menjadi US$ 67,81 per barel, setelah kemarin turun 2,7%. 


Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik 25 sen atau 0,4% menjadi US$ 63,09 per barel, setelah turun 2,8% pada sesi sebelumnya. 

Meski ada kenaikan tipis, kedua patokan ini diperkirakan akan mencatat penurunan mingguan, dengan Brent turun sekitar 0,3% dan WTI turun 0,7%.

Baca Juga: Ketegangan AS–Iran Reda, Harga Minyak Turun Dua Hari Beruntun

Kenaikan harga awal pekan ini sempat dipicu kekhawatiran bahwa AS bisa menyerang Iran terkait program nuklirnya. Namun komentar Presiden AS Donald Trump pada Kamis yang menyebut kemungkinan kesepakatan dengan Iran dalam sebulan mendatang, menekan harga minyak. 

Selain itu, Kremlin mengumumkan bahwa putaran berikutnya dari pembicaraan damai terkait Ukraina dijadwalkan minggu depan.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan Moskow dan Washington tengah membahas kerja sama perdagangan dan ekonomi, tetapi dialog tersebut kemungkinan tidak akan menghasilkan langkah konkret sebelum konflik Ukraina terselesaikan.

Tekanan harga juga datang dari proyeksi terbaru International Energy Agency (IEA), yang menyebut pertumbuhan permintaan minyak global tahun ini akan lebih lemah dari perkiraan sebelumnya. Sementara itu, pasokan diprediksi akan melebihi permintaan.

“Fakta bahwa harga tidak turun signifikan meski banyak berita negatif menunjukkan momentum penurunan mulai melambat dalam jangka pendek,” kata analis XS.com, Linh Tran.

Baca Juga: Harga Minyak Naik 2% Pasca AS Menembak Drone Iran, Kekhawatiran Geopolitik Meningkat

Data AS terbaru juga menunjukkan kenaikan besar stok minyak mentah, sementara pasokan minyak Venezuela diperkirakan meningkat. 

“Ada ekspektasi pasokan minyak Venezuela akan kembali ke level sebelum blokade dalam beberapa bulan ke depan, naik dari 880.000 barel per hari menjadi sekitar 1,2 juta barel per hari,” kata analis IG, Tony Sycamore.

Selain itu, Departemen Keuangan AS dijadwalkan menerbitkan lebih banyak izin yang melonggarkan sanksi terhadap sektor energi Venezuela minggu ini. 

Menteri Energi AS Chris Wright menyebut, penjualan minyak yang dikendalikan AS dari Venezuela telah mencapai lebih dari US$ 1 miliar sejak Januari dan diperkirakan akan menambah sekitar US$ 5 miliar dalam beberapa bulan mendatang. 

Selanjutnya: Prabowo Bakal Bebaskan Kampung Nelayan Merah Putih Lakukan Ekspor Mandiri

Menarik Dibaca: Ada Tengah Bulan Cuan Blibli, Ini Berbagai Kebutuhan yang Bisa Dibeli Sambut Ramadan