KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) berdampak pada sektor pariwisata di Bali Utara. Sejumlah wisatawan asal Eropa dilaporkan membatalkan kunjungan mereka ke wilayah Kabupaten Buleleng, Bali, akibat terganggunya jalur penerbangan internasional. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Buleleng, Dewa Ketut Suardipa, mengatakan bahwa gangguan mobilitas penerbangan internasional membuat sebagian wisatawan tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Bali.
Oleh karena itu, gangguan penerbangan di jalur internasional tersebut mulai terasa pada tingkat hunian hotel di wilayah Buleleng.
Saat ini, menurut Suardipa, sektor akomodasi di Bali utara juga sedang memasuki periode musim sepi atau low season. Dalam kondisi tersebut, tingkat hunian hotel tercatat masih berada di kisaran 30 hingga 40 persen. Meski demikian, beberapa hotel masih mampu bertahan karena adanya kunjungan wisatawan dari Tiongkok yang mendorong tingkat hunian hingga mencapai sekitar 80 persen di sejumlah akomodasi. Suardipa mengatakan, PHRI Buleleng saat ini masih melakukan pendataan untuk memastikan jumlah pasti pembatalan reservasi hotel. Baca Juga: Bahlil: Investor Sudah Siap Bangun Storage Minyak 90 Hari di Sumatra Namun, dia menyebut, sejumlah pelaku usaha perhotelan telah melaporkan adanya tamu yang membatalkan pemesanan kamar akibat gangguan penerbangan tersebut.