Konflik Lebanon Memanas, Delapan Prajurit TNI Jadi Korban dalam Dua Hari



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Eskalasi konflik di Lebanon Selatan dalam beberapa hari terakhir menimbulkan korban di kalangan prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mencatat, total delapan prajurit TNI menjadi korban dalam dua insiden yang terjadi pada 29–30 Maret 2026.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemenhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa situasi keamanan di wilayah penugasan memanas dan berdampak langsung pada personel TNI yang tengah menjalankan tugas pengawalan untuk mendukung operasi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).


Baca Juga: Sinergi BUMN Dukung Pendidikan Anak Prajurit TNI yang Gugur dalam Tugas

Pada insiden 29 Maret 2026, satu prajurit TNI gugur, sementara satu lainnya mengalami luka berat dan dua prajurit lainnya luka ringan. 

Sehari berselang, pada 30 Maret 2026, kembali terjadi serangan yang menyebabkan dua prajurit TNI gugur dan dua lainnya mengalami luka berat.

“Dalam dua hari, delapan prajurit TNI menjadi korban akibat eskalasi konflik di wilayah operasi,” ujar Rico.

Seluruh prajurit yang mengalami luka saat ini menjalani perawatan intensif di Beirut. 

Prajurit dengan luka ringan dirawat di fasilitas kesehatan dasar milik UNIFIL, sementara yang mengalami luka berat telah dievakuasi menggunakan helikopter ke Rumah Sakit St. George untuk penanganan lanjutan.

Baca Juga: Prajurit TNI yang Bertugas di Lokasi Bencana Diberi Uang Lelah, Ini Respon Prabowo

Kemenhan menyatakan penyebab pasti dari kedua insiden tersebut masih dalam penyelidikan oleh pihak UNIFIL sesuai mekanisme yang berlaku. 

Pemerintah Indonesia melalui Kemenhan dan TNI terus berkoordinasi dengan markas besar UNIFIL guna memastikan keselamatan seluruh personel serta menjamin penanganan terbaik bagi korban.

Langkah evakuasi dan penanganan medis disebut telah dilakukan secara cepat sesuai prosedur operasional PBB. Kemenhan juga menegaskan bahwa keselamatan pasukan perdamaian harus menjadi prioritas utama di tengah konflik yang terus meningkat.

Rico menekankan pentingnya semua pihak yang terlibat konflik untuk menghormati hukum humaniter internasional dan menjamin keamanan personel penjaga perdamaian. 

"Indonesia tetap berkomitmen untuk berkontribusi aktif dalam menjaga perdamaian dunia," tegasnya.

Sebelumnya, Markas Besar TNI mengungkap identitas sejumlah prajurit yang menjadi korban dalam insiden awal, di antaranya Praka Farizal Rhomadhon yang gugur, serta Praka Rico Pramudia yang mengalami luka berat.

Baca Juga: Satu Prajurit Gugur, Tiga Terluka Akibat Serangan Israel di Lebanon

Dua prajurit lainnya, Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan, mengalami luka ringan.

Para prajurit tersebut merupakan bagian dari Satgas Kontingen Garuda yang bertugas di bawah UNIFIL. Saat ini, proses administrasi pemulangan jenazah prajurit yang gugur tengah diselesaikan dengan dukungan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beirut.

Sumber: https://nasional.kompas.com/read/2026/03/31/08455601/total-ada-8-prajurit-tni-jadi-korban-di-lebanon-3-gugur-dan-5-luka-luka?page=all#page2.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News