KONTAN.CO.ID - Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Iran sepakat memberlakukan gencatan senjata mulai Jumat (19/6/2026) pukul 16.00 waktu setempat atau 13.00 GMT. Kesepakatan tersebut diumumkan setelah eskalasi pertempuran di Lebanon sempat menguji kelangsungan kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Baca Juga: Minyak Brent Turun ke US$ 79 per Barel, Israel-Hezbollah Sepakat Gencatan Senjata Seorang pejabat Amerika Serikat (AS) mengatakan, kepada
Reuters bahwa kesepakatan gencatan senjata dicapai melalui negosiasi yang dimediasi AS dan Qatar dengan dukungan Iran. "Hezbollah dan Israel telah menyepakati gencatan senjata. Kami memahami bahwa setelah saling serang yang terjadi hari ini, kedua pihak kini berada dalam kondisi gencatan senjata," ujar pejabat tersebut. Kesepakatan itu juga dikonfirmasi oleh seorang pejabat senior Israel serta dua sumber dari Hezbollah. Meski demikian, situasi di lapangan masih menunjukkan ketegangan. Hampir satu jam setelah gencatan senjata seharusnya berlaku, seorang jurnalis Reuters di wilayah utara Israel melaporkan masih terlihat serangan udara Israel di seberang perbatasan Lebanon. Asap tebal juga terlihat membumbung dari area dekat sebuah desa di Lebanon selatan.
Baca Juga: Harga Tembaga Turun ke US$ 13.594 Jumat (19/6), Bersiap Catat Penurunan Mingguan Pejabat senior Israel menegaskan bahwa negaranya akan menghentikan operasi militer selama Hezbollah tidak melakukan serangan. "Jika Hezbollah tidak menyerang kami, maka bagi kami ini bukan masa perang," katanya. Namun, Israel menyatakan tetap akan mempertahankan pasukannya di wilayah Lebanon selatan yang saat ini berada di bawah pendudukannya. Ketegangan meningkat tajam dalam 24 jam terakhir. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 47 orang tewas akibat serangan udara Israel sejak tengah malam. Sementara itu, Israel mengonfirmasi empat tentaranya tewas dalam salah satu serangan paling mematikan yang dilakukan Hezbollah sejak perang pecah. Konflik di Lebanon menjadi salah satu isu penting dalam kesepakatan Amerika Serikat-Iran yang ditandatangani pekan ini.
Baca Juga: Israel dan Hezbollah Sepakati Gencatan Senjata, Berlaku Mulai Jumat Sore Perjanjian tersebut mengharuskan Amerika Serikat, Iran, dan sekutunya menghentikan seluruh operasi militer secara permanen di berbagai front, termasuk Lebanon. Sebelumnya, anggota parlemen Hezbollah Hassan Fadlallah mengatakan, Iran telah menyampaikan kepada kelompok tersebut bahwa pembicaraan dengan Washington tidak dapat dilanjutkan tanpa adanya gencatan senjata yang menyeluruh. Meski menyetujui penghentian sementara pertempuran, pejabat Israel menegaskan negaranya tetap memiliki kebebasan untuk bertindak terhadap ancaman yang muncul terhadap pasukan maupun wilayahnya. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya juga berjanji akan memberikan "harga yang sangat mahal" kepada Hezbollah menyusul tewasnya empat tentara Israel.
Baca Juga: WHO: 75 Tenaga Medis di Kongo Terinfeksi Ebola, 17 Meninggal Dunia Israel menyatakan serangan yang dilakukan dalam beberapa hari terakhir ditujukan kepada personel dan infrastruktur Hezbollah sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh kelompok tersebut. Sebaliknya, Hezbollah membantah telah melanggar kesepakatan dan justru menuduh Israel berulang kali melanggar ketentuan gencatan senjata, termasuk kesepakatan yang tercantum dalam perjanjian AS-Iran. Hezbollah juga menuding Israel terus menyerang warga sipil, menghancurkan rumah dan infrastruktur, serta melanjutkan operasi darat di wilayah Lebanon selatan. Pertempuran terberat terjadi di kawasan Bukit Ali al-Taher di utara Sungai Litani, wilayah strategis yang menjadi titik penting pertahanan Hezbollah. Menurut sumber keamanan Lebanon, pasukan Israel berupaya maju ke wilayah tersebut sebelum akhirnya menghadapi perlawanan sengit.
Baca Juga: Drama di Balik KTT G7: Trump Bikin PM Italia Meloni Murka, Tuding Sebar Cerita Bohong Hezbollah mengklaim berhasil menyergap pasukan Israel yang bergerak menuju kawasan itu dengan menghancurkan tiga tank Merkava menggunakan rudal berpemandu serta melancarkan serangan roket dan artileri. Sejak konflik meletus pada 2 Maret, Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sebanyak 3.912 orang tewas akibat serangan Israel, termasuk 746 tenaga medis, perempuan, dan anak-anak. Sementara itu, korban tewas di pihak Israel dalam konflik dengan Hezbollah mencapai sedikitnya 32 tentara dan empat warga sipil.