Konflik OpenAI dan Matematikawan Memanas, Ada Isu Atribusi dan Plagiarisme



KONTAN.CO.ID - Perselisihan antara OpenAI dan komunitas matematikawan semakin memanas. Sebanyak 25 matematikawan terkemuka dunia melihat teknologi kecerdasan buatan atau AI dapat mengancam budaya riset dan kerja intelektual manusia.

Seluruh 25 matematikawan tersebut merupakan penerima Fields Medal, penghargaan yang dianggap sebagai salah satu penghargaan paling bergengsi di dunia matematika.

Mereka menyoroti bagaimana perusahaan AI berlomba memecahkan persoalan matematika terkenal menggunakan model bahasa besar (LLM).


Menurut para matematikawan, kemampuan AI dalam menghasilkan pembuktian matematika memang berpotensi memberikan manfaat besar bagi manusia.

Baca Juga: Sam Altman: OpenAI Tak Akan IPO pada 2026, Risiko AI Jadi Sorotan

Matematikawan Tuduh OpenAI Tekan Kolaborator

Salah satu perkembangan terbaru datang dari Tristan Buckmaster, profesor matematika di New York University (NYU).

Mengutip TechCrunch, Buckmaster menuduh OpenAI berusaha menekannya agar tidak mencantumkan kredit kepada seorang kolaborator yang bekerja di Anthropic dalam penyelesaian sebuah persoalan matematika penting.

Ia juga mempertanyakan apakah OpenAI menggunakan pekerjaan mereka dengan Codex, perangkat AI untuk membantu pemrograman dan pekerjaan teknis, untuk menghasilkan pembuktian.

Para peneliti mulai khawatir bahwa pekerjaan yang mereka lakukan menggunakan alat AI dapat secara tidak langsung memberikan data atau ide yang kemudian dimanfaatkan untuk mengembangkan model AI berikutnya.

Surat terbuka terbaru tersebut melanjutkan perdebatan yang sebelumnya muncul melalui Leiden Declaration yang diterbitkan kelompok matematikawan pada Juni.

Dokumen tersebut membahas bagaimana pembuktian yang dihasilkan LLM berpotensi mengubah cara matematikawan bekerja.

Leiden Declaration juga memberikan sejumlah rekomendasi yang ditujukan kepada matematikawan, institusi akademik, serta pembuat kebijakan.

Para penandatangan surat terbuka menilai masalah yang sedang dihadapi komunitas matematika merupakan gambaran dari tantangan yang akan muncul di berbagai profesi ilmiah dan kreatif ketika AI semakin banyak digunakan.

Baca Juga: Tesla Akhirnya Buka Selubung Roadster Terbaru pada 1 Oktober 2026

Pembuktian OpenAI Masih Belum Terverifikasi

Salah satu perhatian utama para matematikawan adalah verifikasi terhadap pembuktian yang dihasilkan AI.

Mereka menyinggung pembuktian OpenAI yang hingga kini masih belum terverifikasi.

Menurut mereka, sebuah solusi matematika tidak cukup hanya dengan menghasilkan jawaban atau pembuktian yang tampak benar.

Solusi tersebut harus dapat dipahami, diperiksa, dikembangkan, dan dikomunikasikan oleh komunitas matematika.

Tanpa keterlibatan manusia yang memahami dan mengembangkan ide tersebut, gagasan yang dihasilkan AI berisiko tidak benar-benar menjadi bagian dari perkembangan ilmu matematika.

Para matematikawan khawatir peneliti akhirnya memilih merahasiakan pekerjaan mereka agar tidak didahului perusahaan AI. 

Jika hal itu semakin meluas, budaya riset matematika yang selama ini mengandalkan keterbukaan dan kolaborasi dapat ikut terancam.

Baca Juga: AS Ekspor 10,7 Juta Barel Minyak per Hari, Ini Daftar Pembeli Terbesarnya