KONTAN.CO.ID - Situasi keamanan di Timur Tengah berada di ambang perang terbuka berskala besar. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah meluncurkan serangan balasan masif yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Yordania, serta 21 target strategis lainnya di kawasan Teluk pada Rabu (10/6/2026). Aksi militer Teheran ini merupakan respons langsung atas serangan udara bertubi-tubi yang dilancarkan jet tempur AS di sekitar Selat Hormuz beberapa jam sebelumnya.
Baca Juga: Setelah China, Starbucks Jajaki Opsi Penjualan Saham Bisnisnya di Jepang Melansir
Reuters, kontak senjata yang terjadi hari ini resmi tercatat sebagai salah satu bentrokan militer terbesar dan paling berdarah sejak kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata sementara pada bulan April lalu. Eskalasi hebat ini bermula ketika komando militer AS membombardir sistem pertahanan udara, stasiun kendali darat, dan situs radar pengawas milik Iran di dekat selat. Presiden Donald Trump menegaskan operasi itu adalah balasan setimpal atas jatuhnya helikopter Apache AS akibat dihantam drone bunuh diri Iran pada Selasa kemarin. Namun, serangan balasan AS tersebut justru memicu efek domino yang jauh lebih destruktif.
Baca Juga: Asics Lepas Onitsuka Tiger Jadi Entitas Terpisah Mulai 2027 Rudal Jarak Jauh Incar Hanggar F-35 di Yordania Melalui rilis resmi media pemerintah Teheran, Garda Revolusi Iran mengonfirmasi telah menembakkan rentetan rudal balistik jarak jauh yang membidik empat titik vital di Pangkalan Udara Al-Azraq milik AS di Yordania. Pihak Iran mengklaim serangan tersebut berhasil menyasar hanggar jet tempur siluman F-35 serta pusat kendali taktis udara (command-and-control centre). "Kami memperingatkan musuh bahwa kami telah siap meluncurkan balasan yang jauh lebih menghancurkan dan menentukan jika Amerika Serikat berani melakukan serangan lanjutan," tegas perwakilan Garda Revolusi Iran. Meskipun demikian, pihak Angkatan Bersenjata Yordania bergerak cepat dan menyatakan berhasil mengintersep serta menembak jatuh lima rudal Iran yang mengarah ke Al-Azraq. Otoritas Yordania memastikan serpihan rudal jatuh di area kosong sehingga tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan materiil.
Baca Juga: Nikkei Jepang Turun 1,1% Rabu (10/6), Saat Investor Tinggalkan Saham Teknologi Serangan Udara Meluas ke Kuwait dan Bahrain Tidak berhenti di Yordania, gelombang serangan drone dan rudal Iran juga merembet ke negara-negara tetangga di kawasan Teluk yang menjadi inang bagi pangkalan militer Amerika Serikat:
- Kuwait: Militer Kuwait mengaktifkan status darurat pertahanan udara untuk menghalau objek terbang asing setelah Pangkalan Ali Al Salem digempur drone Iran. Pemerintah mengimbau warga sipil segera mematuhi instruksi keselamatan resmi.
- Bahrain: Markas Armada Kelima Angkatan Laut AS (US Fifth Fleet) ikut menjadi sasaran amukan pesawat tanpa awak Iran. Kementerian Dalam Negeri Bahrain langsung membunyikan sirene peringatan udara di penjuru kota dan meminta warga mencari tempat perlindungan yang aman.
Baca Juga: KOSPI Korea Selatan Anjlok 2,4% Rabu (10/6), Akibat Memanasnya Konflik AS-Iran Seorang pejabat tinggi Pentagon yang berbicara secara anonim menyatakan bahwa berdasarkan penilaian awal, hampir seluruh proyektil dan drone yang diluncurkan oleh Iran berhasil dilumpuhkan oleh sistem perisai udara sekutu. Pihak AS mengklaim belum menerima laporan mengenai adanya personel militer yang terluka atau kerusakan masif pada infrastruktur mereka. Gencatan Senjata Rapuh dan Dampak bagi Pasokan Energi Global Rentetan kekerasan baru ini kian menenggelamkan harapan dunia akan tercapainya kesepakatan damai permanen untuk mengakhiri perang yang pertama kali meletus pada 28 Februari lalu melalui serangan bersama AS-Israel. Akibat eskalasi harian ini, harga minyak mentah dunia pada perdagangan awal bursa Asia langsung merangkak naik sekitar 1%. Sebelumnya, Presiden Trump sempat meremehkan insiden jatuhnya helikopter Apache dengan menyebutnya "bukan masalah besar" karena kedua pilot berhasil diselamatkan dalam kondisi stabil di pesisir Oman.
Baca Juga: Inflasi Produsen China Sentuh Level Tertinggi Hampir 4 Tahun pada Mei 2026 Namun, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, secara tidak langsung memperingatkan AS melalui platform X bahwa keberadaan pasukan asing di wilayah tersebut hanya akan terus memperbesar risiko kecelakaan militer dan terjebak dalam baku tembak. "Solusi terbaik bagi mereka adalah angkat kaki," tulis Araqchi. Hingga saat ini, perundingan damai masih menemui jalan buntu akibat ego politik kedua belah pihak. Trump berkali-kali menegaskan perjanjian baru hanya akan diteken jika Iran menyetujui pembatasan total pengembangan senjata nuklir. Sebaliknya, Iran mengajukan syarat mutlak berupa pencabutan seluruh sanksi ekonomi internasional, pencairan miliaran dolar aset mereka yang dibekukan, serta pengakuan kedaulatan penuh Teheran atas jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz.