Konflik Rusia-Ukraina Pecah, Harga Komoditas Bisa Terus Naik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik Rusia dan Ukraina pecah. Presiden Vladimir Putin bahkan telah memerintahkan tentaranya untuk masuk ke wilayah Ukraina, bahkan Rusia juga sudah mulai menyerang beberapa titik-titik di Ukraina melalui serangan udara.

Imbas dari agresi tersebut, berbagai harga komoditas pun kembali melejit pada hari ini, Kamis (24/2). Merujuk Bloomberg, harga gas alam berada di level US$ 4,86 per mmbtu atau menguat 11,03% dalam tiga hari terakhir. Sementara harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman April berada di level US$ 97,11 per barel alias naik 7,65% dalam tiga hari terakhir.

Komoditas energi lain seperti batubara juga terpantau melonjak. Saat ini harga batubara kontrak pengiriman April di ICE Newcastle berada di level US$ 212,10 per ton. Dalam tiga hari terakhir, harganya sudah berhasil naik 14,26%.


Baca Juga: Rusia dan Ukraina Nyatakan Perang, Begini Tanggapan Pelaku Bisnis Sawit (CPO)

Ketegangan ini juga membuat pasar beralih ke aset aman seperti aset save haven emas. Pasalnya, harga emas spot terpantau sudah mencapai level US$ 1.942,58 per ons troi atau telah menguat 2,37%. 

Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, efek dari perang tersebut sangat besar di mana terlihat hampir semua aset safe haven menguat secara signifikan. Dengan jatuhnya harga saham, maka para investor pun mencari tempat lindung yang aman di tengah ketidakpastian politik tersebut. 

“Sanksi terhadap Rusia akan memicu berbagai kemungkinan, namun seperti kita ketahui Rusia juga ladangnya gas dan minyak, sangat dikhawatirkan tindakan penghentian terhadap jalur gas akan membuat harga energi semakin tinggi,” kata Sutopo.

Hal ini akan menambah parah kondisi rantai pasokan yang saat ini masih belum pulih sepenuhnya ke level sebelum pandemi Covid-19. Sementara di satu sisi, mulai membaiknya ekonomi global mendorong permintaan. 

Baca Juga: Menakar Arah Pergerakan IHSG di Tengah Memanasnya Konflik Rusia-Ukraina

Sementara Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, jika perang berkepanjangan, komoditas yang paling diuntungkan adalah emas karena dijadikan sebagai lindung nilai para investor. Lalu minyak dan gas alam karena Rusia punya andil besar dalam menyediakan suplai kedua komoditas tersebut. Dengan kondisi saat ini, besar kemungkinan produksi Rusia akan terganggu.

Selain itu, Ibrahim juga melihat ada kemungkinan harga nikel dan aluminium akan naik tajam akibat konflik ini. Dia mengatakan, imbas dari konflik ini, berbagai negara Eropa dan Amerika Serikat akan memberikan sanksi terhadap Rusia.

“Alhasil Rusia tidak akan bisa ekspor nikel dan aluminium pada periode tersebut. Alhasil, akan ada gap pada sisi suplai karena produksi yang tidak optimal, di satu sisi permintaan masih akan tetap tinggi,” imbuh Ibrahim.

Baca Juga: Harga Komoditas Solid, Intip Rekomendasi Saham Tambang Batubara

Sutopo mengaku cukup sulit memperkirakan kenaikan harga komoditas ini akan berlanjut hingga ke level berapa. Pasalnya, belum ada yang tahu pasti akan seperti kelanjutan konflik antara Rusia dan Ukraina ini mengingat perang baru saja dimulai. 

Namun, Sutopo meyakini saat ini level US$ 2.000 per ons troi merupakan level resistance kunci untuk emas dunia. Sementara untuk minyak dunia, mengingat level US$ 100 sudah hampir tembus, dia melihat level US$ 125 sangat mungkin dicapai jika krisis memang terjadi secara berkepanjangan. 

“Tentu diharapkan hal ini tidak akan berlarut-larut dan bisa segera berakhir damai. Selain kerugian jiwa dan materi, perang ini bisa berimbas negatif terhadap pertumbuhan ekonomi global, yang saat ini saja masih dibayangi Omicron dan kemacetan rantai pasok global,” imbuh dia.

Baca Juga: Volatilitas Pasar Valas Melonjak, Ada Risiko di Rubel, Euro dan Mata Uang Komoditas

Sutopo mengatakan, saat ini, US$ 1.900 per ons troi merupakan level support untuk emas dunia. Sedangkan untuk minyak dunia, level US$ 90 per barel adalah level support untuk saat ini. 

Sedangkan Ibrahim menilai kenaikan hanya bersifat sementara. Namun, ketika perang mereda dan kedua negara melakukan gencatan senjata, harga komoditas akan anjlok. Terlebih saat ini, harga berbagai komoditas tersebut sudah tidak wajar dan terlalu tinggi. 

Mengingat hal ini merupakan insiden politik yang sulit diperkirakan dan ditebak perkembangannya, Sutopo menyarankan investor untuk tidak berspekulasi mengejar harga pada saat fluktuatif hanya bermodalkan momentum dan keberuntungan.

“Sebaiknya bijak membaca peluang dan sabar. Terlambat masuk tidak mengapa, tetapi menunggu pasar koreksi jauh lebih baik sebelum memutuskan untuk masuk pasar,” kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati