KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik Timur Tengah yang melibatkan Israel-Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai berpotensi menekan pasar properti Tanah Air yang memang tengah mengalami pelemahan. CEO Indonesia Property Watch (IPW) sekaligus Pengamat Properti, Ali Tranghanda mencermati, di tengah konflik global, pergerakan harga properti akan stagnan bahkan relatif menurun. "Para investor juga saat ini mulai melakukan exit di pasar sekunder dengan menjual sebagian aset investasi propertinya yang dapat mengakibatkan koreksi harga," jelas Ali kepada Kontan, Rabu (4/3/2026). Meskipun harga berada di titik rendah, Ali melihat minat investor saat ini juga menurun. Konflik pun akan secara tidak langsung akan makin menekan ekonomi dan daya beli masyarakat. Berdasarkan segmennya, Ali mencermati segmen properti di bawah Rp 500 juta sangat rentan terdampak oleh ketidapkastian global. Sementara itu, properti segmen atas saat ini mengalami penurunan minat, meskipun daya beli pasar di golongan ini masih tetap ada. "Harus disadari pasar properti saat ini memang dalam kondisi melemah dan berpotensi lebih tertekan pasca perang ini. Pemerintah harus dapat mempercepat pergerakan ekonomi agar pertumbuhan tetap terjaga," tandas Ali. Baca Juga: Jaga Distribusi Energi Ramadan–Idul Fitri, Pertamina Patra Niaga Siagakan 345 Kapal Sebelumnya, Head of Research Services Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan, ketidakpastian global yang kerap memicu aliran dana keluar (capital outflow) dapat mengakibatkan pelemahan mata uang rupiah.
Konflik Timur Tengah Berpotensi Makin Menekan Pasar Properti Tanah Air
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik Timur Tengah yang melibatkan Israel-Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai berpotensi menekan pasar properti Tanah Air yang memang tengah mengalami pelemahan. CEO Indonesia Property Watch (IPW) sekaligus Pengamat Properti, Ali Tranghanda mencermati, di tengah konflik global, pergerakan harga properti akan stagnan bahkan relatif menurun. "Para investor juga saat ini mulai melakukan exit di pasar sekunder dengan menjual sebagian aset investasi propertinya yang dapat mengakibatkan koreksi harga," jelas Ali kepada Kontan, Rabu (4/3/2026). Meskipun harga berada di titik rendah, Ali melihat minat investor saat ini juga menurun. Konflik pun akan secara tidak langsung akan makin menekan ekonomi dan daya beli masyarakat. Berdasarkan segmennya, Ali mencermati segmen properti di bawah Rp 500 juta sangat rentan terdampak oleh ketidapkastian global. Sementara itu, properti segmen atas saat ini mengalami penurunan minat, meskipun daya beli pasar di golongan ini masih tetap ada. "Harus disadari pasar properti saat ini memang dalam kondisi melemah dan berpotensi lebih tertekan pasca perang ini. Pemerintah harus dapat mempercepat pergerakan ekonomi agar pertumbuhan tetap terjaga," tandas Ali. Baca Juga: Jaga Distribusi Energi Ramadan–Idul Fitri, Pertamina Patra Niaga Siagakan 345 Kapal Sebelumnya, Head of Research Services Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan, ketidakpastian global yang kerap memicu aliran dana keluar (capital outflow) dapat mengakibatkan pelemahan mata uang rupiah.