Konflik Timur Tengah Berpotensi Meningkatkan Tarif Premi War Risk Surcharge



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik yang terjadi di wilayah Timur Tengah akibat perang Iran dan Amerika Serikat (AS)-Israel membuat risiko lini bisnis pengangkutan menjadi tinggi. Pengamat Asuransi Wahyudin Rahman menilai kondisi tersebut berpotensi membuat tarif premi untuk war risk surcharge menjadi naik.

"Konflik di Timur Tengah meningkatkan risiko war risk, terrorism, dan gangguan jalur pelayaran, khususnya di area seperti Laut Merah dan Teluk Persia. Dampaknya adalah kenaikan rate premi war risk surcharge, terutama untuk pengiriman energi karena eksposurnya tinggi," ungkapnya kepada Kontan, Kamis (19/3).

Selain itu, Wahyudin mengatakan konflik di Timur Tengah juga bisa menyebabkan potensi delay, rerouting kapal, dan kenaikan biaya logistik. Dengan demikian, dapat meningkatkan nilai pertanggungan dan risiko klaim. Ditambah, bisa menyebabkan terjadinya gagal bayar pada asuransi kredit perdagangan.


Baca Juga: Inilah 10 Unitlink Saham yang Mencetak Return Tertinggi pada Februari 2026

Lebih lanjut, Wahyudin menyampaikan kenaikan tarif premi akan sangat bergantung pada rute dan jenis komoditas. Untuk area berisiko tinggi, dia bilang perlindungan war risk surcharge bisa naik signifikan, bahkan dua hingga tiga kali lipat dari tarif normal. 

"Secara rata-rata global, dalam setahun terakhir, tren tarif marine cargo cenderung mengeras atau hardening, meski tidak merata. Untuk pengiriman minyak melalui zona konflik, kenaikan bisa jauh lebih tinggi dibanding rute normal," tuturnya.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Wahyudin mengatakan industri asuransi perlu memperketat underwriting, selektif terhadap rute high-risk area, menerapkan additional premium khusus, memperkuat reasuransi, serta memanfaatkan real-time vessel tracking. 

"Diversifikasi port dan jalur pengiriman juga menjadi mitigasi penting," katanya.

Ke depan, Wahyudin memproyeksikan bisnis asuransi marine cargo tetap prospektif karena perdagangan global tetap berjalan, terutama sektor energi dan komoditas. Namun, dia bilang volatilitas geopolitik akan membuat pricing lebih dinamis dan disiplin underwriting menjadi kunci keberlanjutan profitabilitas lini tersebut.

Berdasarkan kinerja industri, data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat, pendapatan premi asuransi umum di lini asuransi marine cargo per akhir 2025 mencapai Rp 5,65 triliun. Nilainya tumbuh 7,2%, jika dibandingkan posisi tahun sebelumnya. 

Baca Juga: Jumlah Kartu BRIZZI Capai 25,22 Juta Hingga Akhir Tahun 2025

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: