KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak bulan lalu telah memicu krisis di Timur Tengah yang berdampak luas terhadap perdagangan global, termasuk industri ekspor mobil bekas dari Jepang dan Korea Selatan. Salah satu pelaku usaha yang terdampak adalah Umar Ali Hyder Ali, pengusaha mobil bekas berbasis di Jepang. Bisnisnya yang mengirim kendaraan ke Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika terganggu akibat penutupan jalur pelayaran dan kepadatan pelabuhan. Tak lama setelah konflik pecah, salah satu pengiriman lebih dari 500 mobil miliknya tertahan di laut karena tidak dapat masuk ke Sri Lanka. Pelabuhan tujuan penuh akibat pengalihan kargo dari Dubai.
“Kendaraan yang kami kirim ke Sri Lanka sempat tertahan di laut karena tidak ada ruang di pelabuhan,” ujarnya. Pengiriman tersebut akhirnya bisa dibongkar di Pelabuhan Hambantota dengan keterlambatan lebih dari 10 hari.
Dampak Penutupan Selat Hormuz
Krisis ini dipicu oleh terganggunya jalur pelayaran utama, termasuk Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi energi dan perdagangan global. Penutupan sebagian jalur ini menyebabkan gangguan besar pada logistik internasional.
Baca Juga: Transaksi US$500 Juta Terjadi Menjelang Pernyataan Trump, Harga Minyak Anjlok Tajam Kemacetan pelabuhan memicu kepanikan di kalangan perusahaan pelayaran Jepang. Sejumlah perusahaan membatalkan pengiriman, sementara lainnya mengalihkan rute ke Pakistan atau China. Bahkan, ada yang meminta tambahan deposit hingga US$5.000 per unit kendaraan. Perusahaan Hyder Ali yang berbasis di Yokohama, Kobe Motor, mengekspor sekitar 18.000 mobil per tahun. Saat ini, puluhan mobil mewah seperti Rolls-Royce, Lamborghini, dan Ferrari terpaksa dibongkar di Sri Lanka dan China karena kapal tidak dapat mencapai Dubai, pasar utama di Timur Tengah.
Industri Bernilai Miliaran Dolar Tertekan
Data perdagangan menunjukkan Jepang dan Korea Selatan mengekspor mobil bekas senilai sekitar US$19 miliar pada tahun lalu, dengan Jepang menyumbang lebih dari separuh nilai tersebut. Uni Emirat Arab menjadi tujuan terbesar ekspor mobil bekas Jepang dengan volume sekitar 224.000 unit atau 15% dari total ekspor. Namun, gangguan di Selat Hormuz menghambat pengiriman ke kawasan tersebut. Jika konflik berlanjut, eksportir menghadapi tekanan berlapis mulai dari kenaikan harga minyak, biaya logistik, fluktuasi nilai tukar, hingga penurunan harga lelang kendaraan.
Pengiriman Korea Selatan Terhenti
Di Korea Selatan, dampak konflik juga terasa signifikan. Pengiriman mobil bekas terhenti pada periode puncak permintaan yang biasanya berlangsung antara Maret hingga September. Di pelabuhan Incheon, aktivitas menurun drastis. Sekitar 70% kendaraan kini tertahan di gudang penyimpanan. Kapal yang sudah berlayar pun banyak yang menunda perjalanan atau mengalihkan rute. Sebagian kapal memilih membongkar muatan di pelabuhan alternatif di Timur Tengah atau wilayah lain untuk menghindari Selat Hormuz. Keputusan ini umumnya diambil oleh perusahaan pelayaran.
Baca Juga: Bursa Asia Menguat Rabu (25/3), Mata Uang Stabil di Tengah Harapan Negosiasi AS-Iran “Setiap kali terjadi perang, kami tidak punya pilihan selain menunggu,” ujar Jin Jae-woong, pelaku usaha mobil bekas di Korea Selatan. Model seperti Hyundai Avante MD dan Kia K3 tetap diminati pasar Timur Tengah, namun gangguan distribusi membuat perdagangan tersendat.
Risiko dan Ketidakpastian Tinggi
Kenaikan harga minyak juga mendorong tarif pengiriman naik, memperburuk tekanan bagi eksportir. Perusahaan seperti Ventus Auto menghadapi risiko besar karena lebih dari setengah pendapatannya bergantung pada pasar Uni Emirat Arab. Sejumlah eksportir mencoba mencari pasar alternatif, namun terbatasnya permintaan di wilayah lain seperti Afrika dan Amerika Latin membuat opsi tersebut tidak mudah. “Secara efektif, saat ini tidak ada solusi,” ujar Yun Seung-hyun dari Ventus Auto. Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, pelaku industri menghadapi tantangan besar dalam menjaga kelangsungan bisnis di tengah konflik geopolitik yang terus memanas dan mengganggu rantai pasok global.