Konflik Timur Tengah Ganggu Produksi LNG dan Minyak, Harga Energi Melonjak



KONTAN.Co.ID - JAKARTA. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu gangguan serius terhadap pasokan energi global. Produksi gas alam cair (LNG) di Qatar dihentikan pada Senin, sementara Arab Saudi menutup kilang minyak domestik terbesarnya setelah serangan drone, menurut sumber terkait.

Langkah ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang melibatkan serangan Israel dan Amerika Serikat, serta aksi balasan dari Iran, yang memicu penutupan fasilitas minyak dan gas sebagai tindakan pencegahan di berbagai negara kawasan.

Gelombang Serangan Lumpuhkan Produksi Energi

Rangkaian serangan yang memasuki hari ketiga telah menyebabkan sebagian besar produksi minyak di Kurdistan Irak dihentikan. Selain itu, sejumlah ladang gas utama di Israel juga ditutup sementara, sehingga menghambat ekspor gas ke Mesir.


Dampaknya langsung terasa di pasar global. Harga minyak melonjak hingga 13% menjadi di atas US$82 per barel—level tertinggi sejak Januari 2025. Lonjakan ini terjadi karena konflik menghambat lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Baca Juga: Gangguan di Selat Hormuz Memicu Kenaikan Harga LNG Asia Naik 20%

Kilang Ras Tanura Ditutup

Raksasa energi milik negara Saudi Aramco menutup kilang berkapasitas 550.000 barel per hari di Ras Tanura refinery sebagai langkah antisipasi.

Kilang ini merupakan bagian dari kompleks energi di pesisir Teluk yang juga berfungsi sebagai terminal ekspor utama minyak mentah Saudi, sehingga penutupannya berpotensi memengaruhi distribusi global.

Produksi Kurdistan Irak Terhenti

Wilayah Kurdistan Irak sebelumnya mengekspor sekitar 200.000 barel minyak per hari melalui pipa menuju Pelabuhan Ceyhan di Turki. Namun kini sejumlah perusahaan energi menghentikan produksi sebagai langkah pencegahan, meskipun belum ada laporan kerusakan fasilitas.

Ladang Gas Israel Ditutup Sementara

Di lepas pantai Israel, pemerintah menginstruksikan Chevron untuk menghentikan sementara operasional ladang gas raksasa Leviathan gas field yang tengah dalam proses ekspansi kapasitas hingga sekitar 21 miliar meter kubik per tahun.

Chevron juga mengoperasikan ladang Tamar gas field dan memastikan fasilitasnya tetap aman. Sementara itu, perusahaan Energean turut menutup kapal produksi yang melayani ladang gas skala lebih kecil.

Baca Juga: Seberapa Besar Ketergantungan Asia pada Minyak - LNG Timur Tengah? Ini Ringkasannya

Ketidakpastian di Iran

Ledakan dilaporkan terjadi di Pulau Kharg pada Sabtu lalu, pusat pemrosesan sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran. Hingga kini, dampak terhadap fasilitas energi di lokasi tersebut masih belum jelas.

Sebagai produsen minyak terbesar ketiga di Organization of the Petroleum Exporting Countries, Iran menyumbang sekitar 4,5% pasokan minyak global dengan produksi sekitar 3,3 juta barel minyak mentah per hari serta tambahan 1,3 juta barel kondensat dan cairan lainnya.

Pemerintah Qatar menyatakan bahwa fasilitas energi milik QatarEnergy diserang oleh dua drone Iran pada Senin. Otoritas setempat masih melakukan penilaian atas potensi kerusakan.

Situasi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global, terutama jika konflik terus bereskalasi dan mengganggu jalur distribusi strategis di kawasan Timur Tengah.