Konflik Timur Tengah Hantam Industri Plastik, Bahan Baku Seret dan Harga Melonjak



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dampak perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang memantik eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah telah menghantam berbagai industri, tak terkecuali industri plastik yang terkait erat dengan komoditas minyak mentah dan produk petrokimia.

Sekretaris Jenderal Indonesia Olefin, Aromatic and Plastic Industry Association (Inaplas) Fajar Budiono mengungkapkan saat ini tingkat utilisasi industri hilir petrokimia masih cukup tinggi, yakni sekitar 70%. Rata-rata tingkat utilisasi masih terjaga lantaran pelaku industri masih berupaya memenuhi permintaan pasar untuk akhir Ramadan hingga satu pekan setelah Idulfitri.

Tetapi, Fajar memprediksi gangguan baru akan terasa pada pekan kedua atau H+10 pasca Idulfitri. Sebab, konflik di Timur Tengah telah memukul industri petrokimia yang terkait dengan rantai pasok bahan baku untuk industri plastik. Para produsen pun semakin selektif menerima kontrak menyesuaikan pasokan bahan baku yang tersedia.


Baca Juga: IPF: Gejolak Timur Tengah Ganggu Pasokan, Harga Bahan Baku Plastik & Kemasan Melonjak

"Pabrik-pabrik hanya melayani atau mengirim yang (sudah) kontrak saja. Orderan baru belum dilayani. Kontrak baru pun nanti dipilih-pilih, apakah bisa dikasih 100% atau tidak, sehingga dari sisi supply memang ada kehati-hatian karena dampak perang ini bisa lebih panjang daripada yang diperkirakan. Utilisasi di April pasti akan turun, tapi turun seberapa besar, kami belum tahu," ujar Fajar saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (15/3/2026).

Indonesia masih belum bisa lepas dari ketergantungan terhadap impor bahan baku plastik. Fajar bilang, porsi impor untuk setiap kategori berbeda-beda. Beberapa sudah bisa diperoleh dari dalam negeri, namun untuk bahan baku seperti polypropylene dan polyethylene, porsi impor bisa mencapai lebih dari 50%.

Lebih dari separuh kebutuhan impor di industri petrokimia hilir ini berasal dari wilayah Timur Tengah. Dus, adanya keadaan kahar (force majeure) dan sejumlah pabrik petrokimia di Timur Tengah yang terkena serangan militer membuat pasokan bahan baku tersendat.

Para produsen industri plastik pun sedang berlomba mengamankan pasokan bahan baku. Fajar mengatakan, China, menjadi alternatif utama karena Negeri Panda ini memiliki teknologi yang bisa mengolah berbagai jenis bahan. Mulai dari nafta, gas, batubara hingga bahan anorganik lainnya. 

"Dalam hal ini China secara supply masih cukup untuk penetrasi ke market-market yang mempunyai harga bagus. Sekarang posisi China pasti akan jual mahal, karena yang punya banyak teknologi, volume dan bisa kirim hanya China," kata Fajar.

Baca Juga: Kemenperin Ungkap Dampak Gejolak Timur Tengah ke Industri Plastik dan Kemasan

Gangguan rantai pasok telah mendongkrak harga bahan baku plastik. Fajar mencontohkan harga polimer yang dalam sepekan terakhir ini saja sudah melejit dari sekitar US$ 1.100 menjadi US$ 1.700 per metrik ton.

"Jadi lumayan naiknya, 80%-90% dari sebelum perang atau hampir dua kali lipat," imbuh Fajar.

Produk plastik digunakan oleh berbagai industri lainnya. Saat ini, industri makanan dan minuman menjadi pelanggan utama dengan porsi sekitar 35% - 40%. Industri lain yang punya kebutuhan tinggi terhadap produk plastik adalah konstruksi, otomotif serta peralatan rumah tangga dan elektronik. 

Dampak ke Industri Kemasan

Gangguan rantai pasok dan harga bahan baku plastik yang melonjak naik berdampak terhadap industri kemasan. Direktur Eksekutif Indonesia Packaging Federation (IPF), Henky Wibawa menegaskan bahwa pelaku industri mewaspadai ketidakpastian pasokan dan harga bahan baku akibat gangguan di sepanjang rantai pasok petrokimia dan polimer global. 

Beberapa perusahaan petrokimia telah mendeklarasikan force majeure atau menurunkan tingkat operasi pada naphtha cracker dan fasilitas polimer hilir. Situasi ini terjadi pada sejumlah produsen di Timur Tengah, Singapura, Korea Selatan, Thailand, Indonesia, China, Taiwan, dan Vietnam yang mencerminkan luasnya dampak dari eskalasi konflik. 

Baca Juga: Industri Rokok Menyoal 3 Rancangan Aturan, Soroti Batas Nikotin hingga Kemasan Polos

"Kami berusaha untuk mencari kesempatan dengan cara-cara solusi alternatif yang dapat menekan biaya produksi tanpa mengurangi fungsi kemasan yang diharapkan," ungkap Henky kepada Kontan.co.id, Minggu (15/3/2026).

Porsi impor bahan baku plastik untuk kemasan mencapai sekitar 50% - 60%. Sebab, kapasitas dalam negeri hanya dapat memenuhi maksimal 50% dari kebutuhan. "Belum lagi jenis plastik yang bermacam-macam, tidak semuanya dapat dipenuhi dalam negeri. Kondisi industri kemasan plastik dan hampir semua bisnis terkait juga tidak mudah saat ini," ungkap Henky.

Pelaku industri pun masih bertahan dengan stok yang tersedia, sembari berupaya mencari alternatif pasokan bahan baku dan inovasi produk. Apalagi, gangguan rantai pasok serta lonjakan biaya dan harga di komoditas hulu turut mengerek naik harga bahan baku plastik.

Henky menggambarkan, kenaikan harga bahan baku plastik bisa mencapai sekitar 80% - 100%, atau dapat menembus satu setengah hingga dua kali lipat dibandingkan harga normal sebelum perang Timur Tengah. Adapun, porsi biaya bahan baku berkisar 50% - 70% dari biaya total kemasan.

Meski begitu, besaran kenaikan harga di pasar atau di tingkat konsumen akan tergantung dari berbagai faktor, termasuk dari strategi pengusaha dalam menjaga margin. "Bisa dibayangkan, bagi produsen kemasan harus menaikkan harga jual atau memotong margin keuntungan? Bagi produk jadi, harus menghitung dari elastisitas permintaan. Maka perlu kolaborasi dan inovasi bersama antara produsen kemasan dan pemilik merek," terang Henky.

Para pelaku industri pun memperkuat kolaborasi dan inovasi sebagai salah satu bentuk strategi mitigasi. Para produsen kemasan berkolaborasi dengan pemilik merek atau produsen Fast Moving Consumer Goods (FMCG) untuk mencari alternatif pengganti material yang tidak terdampak langsung dengan pengurangan bahan baku.

"Misalnya di kemasan flexible, yang tadinya memakai film polypropylene yang terdampak dapat digantikan dengan film polyester, yang saat ini belum terdampak. Bisa juga mencoba untuk dapat digantikan dengan kemasan kertas jika memungkinkan," terang Henky.

Fajar mengemukakan hal serupa. Saat ini, pelaku industri pengguna plastik berupaya memacu inovasi untuk mengurangi pemakaian bahan plastik, memperbanyak porsi kemasan non-plastik, mencari alternatif bahan lain atau dengan menambah komposisi produk daur ulang. 

"Dalam situasi ini semua terkena dampaknya. Tinggal bagaimana kesiapan menghadapinya. Rasanya kita harus bertahan dengan inovasi-inovasi yang bisa dilakukan, karena demand dalam negeri sebenarnya masih cukup bagus," ujar Fajar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News