KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Konflik di Timur-Tengah ternyata tidak hanya berpengaruh pada kenaikan harga minyak mentah global, hilirisasi nikel Indonesia juga terancam dengan potensi mandeknya pasokan impor sulfur yang merupakan bahan baku utama produksi asam sulfat. Untuk diketahui, asam sulfat sendiri sangat dibutuhkan oleh industri pemurnian nikel Indonesia, karena digunakan dalam proses pelindian (leaching) pada smelter yang menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL). Menurut Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), produksi MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) - battery grade nickel dengan menggunakan teknologi HPAL sangat bergantung pada kehadiran asam sulfat ini.
“Lebih dari 75% impor sulfur Indonesia pada tahun 2025 berasal dari Timur Tengah,” ungkap ketua FINI, Arif Perdana Kusumah kepada Kontan, Senin (9/3/2026).
Baca Juga: Kementerian ESDM Amankan 150 Juta Ton Batubara untuk DMO Tahun 2026 Pasokan yang sangat terpusat ini, setelah munculnya konflik di Timur-Tengah dan ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran, diakui FINI mengakibatkan terganggunya bahkan akan memunculkan potensi terputusnya sumber bahan baku utama untuk refinery HPAL di Indonesia. “Situasi ini akan juga mengakibatkan kelangkaan material sulfur di tingkat global dan menaikkan harga secara signifikan,” kata dia. Adapun, dalam catatan FINI, sepanjang 2025 kapasitas terpasang refinery HPAL di berada pada angka sekitar 495 ribu ton MHP dan pada tahun 2026 terjadi peningkatan kapasitas terpasang menjadi 762 ribu ton MHP. “Berdasarkan data rata-rata industri, untuk memproduksi 1 ton nikel MHP membutuhkan sekitar 12 ton-13 ton sulfur,” kata dia. Adapun, mengenai macetnya pasokan sulfur sebagai imbas gejolak di Timur-Tengah, Menteri ESDM sekaligus Ketua Satgas Hilirisasi, Bahlil Lahadalia menyebut pihaknya masih mencari alternatif langkah untuk memenuhi kebutuhan sulfur di dalam negeri. “Kita- kita kan baru selesai satgas ya, baru dibentuk. Saya rapat satgas dulu baru saya akan laporkan ya. Semuanya kita lagi cari alternatif-alternatif terbaik agar semua industri kita bisa berjalan dengan baik,” ungkapnya singkat di Kementerian ESDM, Senin (9/3/2026). Untuk diketahui, Timur Tengah menyumbang sekitar 24% dari produksi sulfur global, yaitu 83,87 juta metrik ton tahun lalu, menurut Survei Geologi AS. Namun, gangguan pengiriman di Selat Hormuz, akibat serangan AS dan Israel terhadap Iran dan pembalasan Teheran yang semakin meluas, mengancam pasokan.
Baca Juga: PGN (PGAS) Siapkan Belanja Modal US$ 353 Juta pada 2026, Ini Rencana Penggunaannya Indonesia, yang merupakan rumah bagi lebih dari 50% produksi nikel global, mengimpor sekitar tiga perempat sulfurnya dari Timur Tengah, menurut Peter Harrisson, analis di perusahaan konsultan CRU. Nikel di Indonesia sebagian besar digunakan untuk membuat baja tahan karat. Melansir
Bloomberg, persediaan sulfur di pabrik nikel saat ini rata-rata hanya cukup untuk konsumsi satu hingga dua bulan, menurut dua sumber di perusahaan pengolahan nikel Tiongkok di Indonesia, yang menolak disebutkan namanya karena tidak berwenang untuk berbicara di depan umum. Biaya sulfur sudah mencapai sekitar setengah dari biaya operasional pabrik HPAL sebelum konflik pecah karena kenaikan harga yang sangat besar, menurut Marco Martins, seorang analis di
Project Blue. Tanpa alternatif, pabrik-pabrik tersebut dapat terpaksa mulai mengurangi produksi pada bulan depan, tambahnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News