Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Emas, Target Jangka Pendek US$ 5.750



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi berdampak langsung pada pergerakan harga emas di pasar global.

Ketidakpastian geopolitik ini menimbulkan tekanan pada jalur perdagangan energi utama dunia, khususnya Selat Hormuz, yang menjadi fokus investor untuk aset lindung nilai (hedging).

Penutupan Selat Hormuz dan pembatasan kapal komersial di kawasan tersebut dinilai dapat mengganggu alur perdagangan global, sekaligus memicu lonjakan permintaan emas sebagai instrumen perlindungan terhadap inflasi akibat kenaikan harga energi.


Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, menilai efek gangguan di Selat Hormuz terhadap emas saat ini bukan sekadar “riak kecil”, melainkan peristiwa pengubah tren atau trend shifter yang bersifat fundamental.

Baca Juga: Harga Emas Antam Meroket! Ini Peluang Keuntungan Investor pada 2026

“Karena Selat Hormuz adalah urat nadi energi dunia, penutupannya menciptakan efek domino yang sangat menguntungkan bagi harga emas,” ujar Nanang kepada Kontan, Senin (2/3/2026).

Menurutnya, penutupan selat ini bukan hanya soal minyak dan gas, tetapi juga merupakan ancaman perang terbuka di Timur Tengah. Dalam kondisi ketidakpastian ekstrem, investor institusi besar cenderung memindahkan dana dari aset berisiko seperti saham ke emas.

Situasi ini berpotensi menciptakan permintaan masif terhadap emas, baik yang bersifat fisik maupun derivatif.

“Untuk jangka pendek prospek emas tetap sangat bullish,” tegas Nanang.

Melansir Trading Economics pada Senin (2/3) pukul 15.13 WIB, harga emas di pasar spot mencapai US$ 5.410 per ons troi, naik 2,50% secara harian dan 9,50% dalam sebulan terakhir.

Nanang menambahkan, setelah menembus level US$ 5.400 per ons troi, target teknis berikutnya secara matematis berdasarkan ekstensi Fibonacci berada di kisaran US$ 5.650–US$ 5.800.

Tren bullish emas diperkirakan akan bertahan selama sejumlah faktor kunci tetap ada. Selama belum ada gencatan senjata atau jaminan keamanan navigasi di Selat Hormuz, emas akan terus diburu sebagai aset aman (safe haven).

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Emas Berpotensi Tembus Rekor Baru

Jika krisis ini memicu resesi global, bank sentral seperti The Fed mungkin terpaksa menghentikan kenaikan suku bunga atau bahkan menurunkannya untuk menyelamatkan perekonomian.

Selain itu, tahun 2026 kerap menjadi tahun transisi politik di berbagai negara. Ketidakstabilan domestik yang dibarengi krisis eksternal akan memperpanjang posisi emas sebagai raja aset.

Melihat kondisi tersebut, Nanang memproyeksikan harga emas pada semester I 2026 akan mengalami kenaikan signifikan, terdorong oleh ketegangan geopolitik ekstrem dan kebijakan moneter global yang mendukung aset safe haven.

Dengan sisi fundamental saat ini, Nanang memperkirakan harga emas global bisa menembus rekor tertinggi baru (ATH) dari US$ 5.597 menuju US$ 5.650, bahkan mencapai US$ 5.750 per ons troi dalam enam bulan pertama tahun ini.

“Tren jangka panjang tahun 2026 masih diproyeksikan bullish menuju target US$ 5.000–US$ 6.000 per ons,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News