Konflik Timur Tengah Tekan Bisnis Marine Cargo, War Risk Surcharge Berpotensi Naik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah dinilai berpotensi menekan lini bisnis asuransi marine cargo, terutama untuk rute pelayaran yang melintasi wilayah berisiko tinggi seperti Selat Hormuz.

Pengamat asuransi Wahyudin Rahman menilai, ketegangan geopolitik di sekitar jalur tersebut dapat mendorong kenaikan signifikan pada war risk surcharge atau tambahan premi risiko perang.

“Untuk rute berisiko tinggi, penyesuaian tarif bisa bersifat cepat dan fleksibel mengikuti situasi keamanan. Di pasar global saat ini sudah terlihat indikasi pengetatan terms dan kenaikan additional premium untuk pelayaran yang melintasi zona konflik, terutama pengiriman minyak dan LNG,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (3/3).


Baca Juga: BTN Bidik Wealth Management Tumbuh 15% pada 2026

Menurutnya, untuk rute normal, tarif marine cargo relatif stabil. Namun, di wilayah konflik, war risk surcharge dapat meningkat beberapa kali lipat dibandingkan rute biasa. Dalam kondisi eskalasi tinggi, tambahan premi bisa berada di kisaran beberapa basis poin hingga persentase tertentu dari nilai kapal atau kargo per voyage, tergantung tingkat ancaman dan kebijakan underwriter.

Wahyudin menambahkan, Selat Hormuz merupakan jalur strategis energi dunia dengan porsi signifikan perdagangan minyak global yang melintas setiap hari. Dengan demikian, nilai pertanggungan (sum insured) yang terekspos sangat besar, mencakup nilai kapal tanker, muatan minyak mentah, hingga potensi kerugian akibat gangguan usaha (business interruption).

“Setiap gangguan di jalur ini berpotensi berdampak sistemik terhadap rantai pasok global dan klaim asuransi,” katanya.

Ia menjelaskan, industri asuransi dan reasuransi umumnya merespons situasi tersebut dengan memperketat proses underwriting, meninjau kembali tarif dan terms & conditions, menaikkan deductible, serta membatasi limit pertanggungan untuk wilayah high risk. Selain itu, perusahaan juga perlu memastikan kapasitas reasuransi tetap memadai.

Pemantauan risiko secara real-time dan evaluasi rute pelayaran, lanjutnya, menjadi kunci untuk menjaga kualitas portofolio dan stabilitas klaim di tengah dinamika geopolitik yang masih berkembang.

Baca Juga: BNI Buka Pendaftaran Mudik Gratis BUMN 2026, Berangkat pada 17 Maret

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News