Konflik Timur Tengah Tekan Mata Uang Asia, Rupiah Sentuh Level Terendah Baru



KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menyentuh level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), seiring pelemahan yang melanda mayoritas mata uang Asia di tengah ketidakpastian geopolitik global dan penguatan dolar AS.

Berdasarkan data pasar pada Selasa (2/6/2026) pukul 02.21 GMT, rupiah berada di level Rp 17.892 per dolar AS, melemah 0,15% dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 17.865 per dolar AS.

Pelemahan rupiah tersebut menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia sepanjang tahun ini.


Baca Juga: Pendiri Citron Research Andrew Left Terbukti Lakukan Manipulasi Saham

Rupiah Terdepresiasi 6,8% Sejak Awal Tahun

Jika dibandingkan dengan posisi akhir 2025 yang berada di level Rp 16.670 per dolar AS, rupiah telah terdepresiasi sekitar 6,83% sepanjang 2026.

Kinerja rupiah bahkan lebih buruk dibandingkan sejumlah mata uang utama Asia lainnya, seperti:

  • Won Korea Selatan yang melemah 5,10% sejak awal tahun.
  • Rupee India yang turun 5,39%.
  • Peso Filipina yang terdepresiasi 4,73%.
  • Baht Thailand yang melemah 3,47%.
  • Yen Jepang yang turun 1,89%.
Baca Juga: Blackstone Himpun US$13,1 Miliar, Bukti Investor Masih Percaya Prospek Asia

Sebaliknya, beberapa mata uang Asia masih mampu menguat terhadap dolar AS sepanjang tahun ini, antara lain:

  • Yuan China yang menguat 3,32%.
  • Ringgit Malaysia yang naik 2,35%.
  • Dolar Singapura yang menguat 0,52%.
Baca Juga: Bursa Australia Turun 0,9% Selasa (2/6), Sentimen Timur Tengah Tekan Saham Perbankan

Tekanan Eksternal Masih Mendominasi

Pelemahan mata uang Asia terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar global akibat konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, Israel, dan kelompok Hizbullah di Lebanon.

Ketegangan tersebut mendorong harga minyak dunia tetap berada di level tinggi dan meningkatkan permintaan terhadap aset-aset safe haven, termasuk dolar AS.

Di pasar Asia pada perdagangan Selasa, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan harian terbesar setelah turun 0,26%, disusul dolar Taiwan yang melemah 0,16% dan rupiah Indonesia yang turun 0,15%.

Sementara itu, yuan China dan baht Thailand mencatat penguatan tipis masing-masing sebesar 0,04% dan 0,03%.

Baca Juga: Jensen Huang Tegaskan Nvidia Siap Hadapi Lonjakan Permintaan Chip AI

Pasar Menanti Perkembangan Timur Tengah

Pelaku pasar saat ini masih mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait perpanjangan gencatan senjata serta potensi pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.

Ketidakpastian mengenai prospek perdamaian di kawasan Timur Tengah diperkirakan akan terus memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, dalam jangka pendek.

Di tengah tekanan tersebut, pasar juga menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat pekan ini, termasuk laporan ketenagakerjaan yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve.

Jika data ekonomi AS tetap kuat, dolar berpotensi mempertahankan penguatannya dan menambah tekanan terhadap mata uang Asia, termasuk rupiah.