KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketidakpastian geopolitik akibat konflik di Timur Tengah kembali memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, ketidakpastian geopolitik biasanya menekan rupiah melalui dua jalur utama yang saling memperkuat. Pertama, pelaku pasar global cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan beralih ke mata uang utama seperti dolar Amerika Serikat (AS).
Kondisi ini memicu arus dana keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik dan meningkatkan permintaan dolar AS. Kedua, jika konflik mendorong lonjakan harga minyak, maka biaya impor energi Indonesia meningkat.
Baca Juga: Konflik AS-Iran Tekan Rupiah, Investor Pantau Cadangan Devisa Begini Arah Rupiah "Maka surplus neraca perdagangan berpotensi menyempit sehingga neraca transaksi berjalan memburuk, sementara beban subsidi energi dapat menekan ruang fiskal bila pemerintah menahan harga jual energi dalam negeri," ujar Josua saat dihubungi Kontan, Kamis (5/3/2026).
Skenario konflik singkat Josua mencermati, sebelumnya pengalaman perang singkat pada 2025 menunjukkan pelemahan rupiah cenderung bersifat sementara selama gangguan pasokan energi tidak signifikan dan jalur pelayaran utama tetap berfungsi. Kala itu, rupiah sempat melemah sekitar 1%–2% sebelum kembali pulih setelah tensi mereda. Dalam skenario konflik singkat saat ini, yang tidak merusak infrastruktur minyak dan tidak mengganggu Selat Hormuz, lonjakan harga minyak diperkirakan terbatas dan kembali menurun dalam waktu relatif cepat. Tekanan terhadap rupiah pun dinilai mereda dalam hitungan minggu, terutama jika Bank Indonesia (BI) tetap aktif melakukan intervensi dan menjaga stabilitas pasar. Dengan asumsi deeskalasi terjadi dalam beberapa minggu dan harga minyak kembali normal, Josua memproyeksikan rupiah bulan depan bergerak di kisaran Rp 16.700–Rp 16.900 per dolar AS.
Baca Juga: Tertekan Tensi Geopolitik, Rupiah Melemah ke Rp 16.905 per Dolar AS pada Kamis (5/3) Risiko konflik berkepanjangan Sebaliknya, apabila konflik berkepanjangan dan meluas hingga mengganggu produksi, terminal minyak, atau jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz, risiko lonjakan harga minyak yang bertahan di atas US$ 90–US$ 100 per barel meningkat. Dalam situasi tersebut, pelaku pasar biasanya akan meminta premi risiko lebih tinggi terhadap aset Indonesia. Kondisi ini dapat menunda penurunan suku bunga, memperlebar tekanan pada neraca eksternal dan fiskal, serta meningkatkan volatilitas nilai tukar. “Dalam skenario perang berkepanjangan, rupiah berpotensi bergerak lebih lemah dan lebih bergejolak hingga pertengahan tahun. Skenario terburuk berupa gangguan berat Selat Hormuz dapat mendorong pelemahan lebih dalam secara sementara,” jelasnya.
Untuk membatasi dampak tersebut, Josua menekankan pentingnya bauran kebijakan yang konsisten. Langkah yang diperlukan antara lain intervensi valas dan stabilisasi pasar surat berharga, penguatan pasokan valas domestik khususnya dari devisa ekspor, pengendalian impor non-prioritas, serta pengelolaan subsidi energi secara terukur agar kredibilitas fiskal tetap terjaga.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 16.905 Per Dolar AS Hari Ini (5/3), Asia Terkoreksi Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News