Kongo Laporkan Kematian Akibat Ebola di Provinsi Baru



KONTAN.CO.ID - DAKAR. Otoritas kesehatan Republik Demokratik Kongo telah mengidentifikasi seseorang yang meninggal akibat Ebola di provinsi yang sebelumnya tidak terdampak oleh wabah yang sedang berlangsung, menurut seorang pejabat kepada Reuters, Kamis (13/8/2026).

Hal ini memicu kekhawatiran akan penularan yang lebih luas akibat berbagai paparan sebelum dan sesudah kematian pasien tersebut.

Kasus ini melibatkan seorang pengemudi ojek yang bepergian dari provinsi Haut-Uele—tempat kasus telah dikonfirmasi—ke provinsi Bas-Uele, wilayah yang sebelumnya tidak melaporkan adanya kasus, ujar Jean-Jacques Muyembe, kepala Institut Nasional Penelitian Biomedis Kongo, kepada Reuters.


Baca Juga: Serangan Israel di Gaza Tewaskan 1 Warga Palestina, Pertama dalam Sepekan

Pasien tersebut meninggal di Buta, ibu kota Bas-Uele, setelah menunjukkan gejala demam berdarah yang sesuai dengan Ebola dan dinyatakan positif mengidap virus tersebut setelah kematiannya, kata Muyembe.

Haut-Uele, salah satu dari lima provinsi yang terdampak wabah yang diumumkan pada 15 Mei tersebut, telah mencatat 113 kasus terkonfirmasi, menurut data pemerintah terbaru yang dirilis pada hari Selasa.

Bas-Uele tidak akan dimasukkan ke dalam daftar provinsi terdampak sampai ditemukan kasus penularan lokal.

Namun, Muyembe mengatakan bahwa pengemudi ojek tersebut sempat mengunjungi beberapa fasilitas kesehatan sebelum meninggal, dan rekan-rekan sesama pengemudi ojek sempat berupaya mengambil jenazahnya—sehingga memicu intervensi polisi setempat—yang menimbulkan kekhawatiran bahwa sejumlah orang mungkin telah tertular.

Baca Juga: Harga Emas Turun dari Level Tertinggi Dua Bulan, Dipicu Aksi Ambil Untung Investor

Wabah Ebola yang sedang berlangsung ini—yang merupakan wabah ke-17 di Kongo—sejauh ini telah menginfeksi 4.566 orang dan menyebabkan 2.128 kematian, menurut data pemerintah yang dirilis pada hari Rabu. 

Jumlah kasus ini menjadikannya wabah terbesar kedua dalam catatan sejarah, setelah wabah di Afrika Barat yang berlangsung dari tahun 2014 hingga 2016.