KONTAN.CO.ID - Partai Republik membela keputusan Presiden Donald Trump melancarkan serangan terhadap Iran sebagai panglima tertinggi. Sementara itu, Partai Demokrat menilai pemerintah belum menyampaikan alasan yang meyakinkan dan berencana mengajukan voting terkait kewenangan perang (war powers) pekan ini.
Baca Juga: Warga AS di Iran Terancam, Aktivis Khawatir Jadi Alat Tawar di Tengah Eskalasi Perang Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Direktur CIA John Ratcliffe, serta Ketua Gabungan Kepala Staf Jenderal Dan Caine memberikan pengarahan tertutup kepada pimpinan Kongres, dua hari setelah pasukan AS dan Israel memulai pemboman terhadap Iran. Rubio sebelumnya menyatakan terdapat ancaman yang segera (
imminent threat) terhadap Amerika Serikat, karena Washington mengetahui rencana Israel menyerang Iran dan memperkirakan Teheran akan membalas dengan menyerang pasukan AS. Republik: Langkah Perlu dan Terbatas Ketua DPR AS Mike Johnson mengatakan, keputusan Trump merupakan langkah sulit namun perlu, mengingat Israel bertekad bertindak dengan atau tanpa dukungan AS. “Dalam pandangan saya, saat ini militer dan panglima tertinggi sedang menyelesaikan operasi yang terbatas cakupannya, terbatas tujuannya, dan mutlak diperlukan untuk pertahanan kita,” ujar Johnson dilansir dari Reuters Senin (2/3/2026).
Baca Juga: PMI Manufaktur Korsel Ekspansi 3 Bulan Beruntun, Ditopang Lonjakan Produksi Chip Ia menambahkan operasi tersebut diyakini akan segera berakhir. Partai Republik menilai ancaman terhadap pasukan AS akibat potensi serangan balasan Iran sudah cukup untuk membenarkan tindakan presiden. Demokrat: Kongres Punya Hak Deklarasi Perang Sebaliknya, Demokrat berpendapat Konstitusi AS memberikan kewenangan menyatakan perang kepada Kongres, bukan presiden. Mereka menilai Trump tidak seharusnya memulai kampanye militer yang berpotensi berlangsung berminggu-minggu tanpa persetujuan legislatif. Senator Demokrat dari Virginia Mark Warner mengatakan dalam sepekan terakhir pemerintah menyampaikan berbagai alasan berbeda untuk menyerang Iran mulai dari menghentikan program nuklir, mengakhiri pengembangan rudal balistik, mengganti rezim, hingga menenggelamkan armada laut Iran.
Baca Juga: Belanja Modal Jepang Naik 6,5% di Kuartal IV, Topang Ekonomi yang Lesu “Saya berdiri teguh bersama Israel. Tetapi ketika kita berbicara tentang menempatkan tentara Amerika dalam bahaya dan sudah ada korban jiwa, harus ada bukti ancaman langsung terhadap kepentingan Amerika. Saya rasa standar itu belum terpenuhi,” ujar Warner. Hingga Senin malam, enam personel militer AS dilaporkan tewas dalam konflik tersebut. Voting War Powers Pejabat pemerintahan Trump dijadwalkan kembali ke Capitol Hill pada Selasa untuk memberikan pengarahan kepada seluruh anggota Senat dan DPR.
Pekan ini, anggota parlemen diperkirakan akan melakukan voting atas resolusi war powers yang dapat membatasi Trump melanjutkan serangan tanpa deklarasi perang resmi dari Kongres.
Baca Juga: Perang Iran Tak Ada Tanda-Tanda Mereda, Merek Mewah Global Pilih Tutup Toko Meski Konstitusi memberi Kongres kewenangan menyatakan perang, Partai Republik yang memegang mayoritas tipis di DPR dan Senat sejauh ini berhasil menggagalkan upaya Demokrat untuk memaksa presiden meminta persetujuan legislatif atas aksi militer terhadap Iran. Perdebatan ini memperlihatkan ketegangan politik domestik di tengah eskalasi konflik luar negeri yang semakin luas.