Kongsi BYAN dan White Energy terancam bubar



JAKARTA. Kongsi antara PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan White Energy Ltd terancam bubar. Perselisihan terjadi terkait rencana kedua pihak mengembangkan pabrik pengolahan batubara di Kalimantan Timur.

BYAN dan White Energy telah membentuk perusahaan patungan, yakni PT Kaltim Supacoal. BYAN memiliki 49% saham Kaltim Supacoal, dan 51% dikuasai White Energy, korporasi asal Australia. Pabrik pengolahan batubara dibangun dan beroperasi di bawah kendali Kaltim Supacoal.

Direktur BYAN, Jenny Quantero, mengungkapkan BYAN berniat menarik diri dari proyek pembangunan pabrik tersebut. "Prospeknya tidak menjanjikan, kami sedang membahas penyelesaiannya," ujar Jenny kepada KONTAN, Jumat (24/2).


Manajemen BYAN belum menentukan mekanisme penghentian kerjasama ini. Apakah akan keluar dari perusahaan patungan tersebut, atau bentuk lain.Sekadar mengingatkan, manejemen White Energy sebelumnya menyatakan tengah berunding dengan sejumlah perusahaan tambang asal Indonesia, Afrika Selatan dan Amerika Serikat. White Energy mengundang para investor strategis itu untuk berkontribusi dalam pembangunan pabrik Kaltim Supacoal.

Kontrak batubara

Pengelola BYAN juga akan mengerek kadar batubaranya dari semula 4.000 kalori menjadi 6.000 kalori. Tapi peningkatan kalori tersebut tidak dilakukan untuk semua produk batubara. Di sisi lain, BYAN telah mengantongi kontrak penjualan batubara sebanyak 10 juta ton untuk jangka waktu 10 tahun. Pengiriman akan dimulai pada 2014.

Kontrak penjualan batubara itu didapat dari Thermal Powertech Corporation, India. BYAN akan memasok batubara yang mengandung abu dan belerang rendah ke Thermal Powertech sebanyak 1 juta ton per tahun.

BYAN sudah meneken perjanjian jual beli batubara dengan Thermal Powertech pada 23 Februari 2012. "Harga jualnya belum disepakati. Kontrak itu baru dimulai tahun 2014. Harga akan dikaji setiap tahun," tutur dia.

Thermal Powertech merupakan perusahaan yang dimiliki oleh Gayatri Energy Ventures bersama Sembcorp Utilitis. Perusahaan itu akan membangun dan mengoperasikan pembangkit listrik berbahan bakar batubara dengan kapasitas 1.320 megawatt. Harga saham BYAN kemarin ditutup menyusut 0,28% menjadi Rp 18.100 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News