Konsolidasi Tjokro Group Mulai Berbuah, Penjualan GPSO Melonjak 194%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten yang bergerak di bidang penyediaan solusi geospasial dan perindustrian, PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) mencatatkan lonjakan kinerja operasional pada periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. 

Hasil positif ini berhasil diraih GPSO di awal pasca konsolidasi bisnis dan masuknya pemegang saham pengendali baru, PT PIMSF Pulogadung, yang merupakan bagian dari Tjokro Group. 

Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2026, GPSO berhasil meraup penjualan neto sebesar Rp 9,18 miliar. Ini melonjak tajam 194,07% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari Rp 3,12 miliar. 


Baca Juga: Rugi Bersih Kimia Farma (KAEF) Susut 94,49%, Laba Usaha Melonjak 129%

Peningkatan tajam penjualan GPSO didukung kuat oleh kontribusi transaksi dengan pihak-pihak berelasi dari jaringan bisnis Tjokro Group yang menyumbangkan 85,96% dari total pendapatan.

Kontributor penjualan terbesar antara lain PT Tjokro Bersaudara Sangattaindo sebesar Rp 2,41 miliar atau 26,20%. Kemudian PT Morita Tjokro Gearindo berkontribusi sebesar Rp 2,17 miliar atau 23,68%.

Selain itu, PT Geoprima Sistem Indonesia menyumbang penjualan Rp 1,20 miliar atau 13,06%. Sementara pelanggan pihak ketiga dan lainnya berkontribusi sebesar Rp 3,40 miliar di periode Januari–September 2026.

Sebagai pembanding, pada sembilan bulan pertama 2025, sebelum konsolidasi, penjualan GPSO terutama ditopang PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) atau Harita sebesar Rp 1,76 miliar.

Seiring kenaikan penjualan, beban pokok GPSO meningkat 559,58% menjadi Rp 8,03 miliar dari Rp 1,22 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya sehingga menekan margin GPSO. 

Di sisi lain, GPSO mencatat penurunan beban penjualan 44,98% menjadi Rp 263,86 juta. Beban umum dan administrasi juga turun 41,28% menjadi Rp 3,23 miliar per September 2026.

Efisiensi beban usaha tersebut membuat rugi operasi GPSO menyusut 42,49% menjadi Rp 2,35 miliar per kuartal III-2025. Pada periode yang sama di 2026, rugi operasional GPSO mencapai Rp 4,08 miliar. 

Dari pos non-operasional, GPSO membukukan pendapatan lain-lain Rp 610,37 juta, yang ditopang dari pemulihan penyisihan penurunan nilai piutang. Berbalik dari beban lain-lain Rp 42,11 juta pada periode sembilan bulan pertama 2025.

Dari sisi bottom line, rugi bersih GPSO membaik 57,88% atau menyusut Rp 2,39 miliar dibandingkan rugi Rp 4,13 miliar per September 2026. Rugi per saham dasar GPSO juga mengecil menjadi Rp 2,61.

Pada sisi neraca, kas dan setara kas GPSO naik 71,63% menjadi Rp 1,43 miliar per 30 September 2026. Sebagai pembanding, kas dan setara GPSO pada 31 Desember 2025 mencapai Rp 833,69 juta. 

Per 30 September 2026, total aset GPSO mencapai Rp 79,58 miliar. Masih di periode yang sama, total liabilitas GPSO mencapai Rp 10,17 miliar dengan total ekuitas Rp 69,41 miliar. 

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 18.150 per Dolar AS, Ini Pergerakan Mata Uang Asia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News