KONTAN.CO.ID - Konsorsium yang dipimpin KKR bersama Singapore Telecommunications Ltd (Singtel) sepakat membayar S$6,6 miliar atau sekitar US$5,2 miliar secara tunai untuk mengakuisisi sisa 82% saham ST Telemedia Global Data Centres (STT GDC). Transaksi ini menilai operator pusat data berbasis Singapura tersebut dengan enterprise value implisit S$13,8 miliar. Sebelumnya,
Reuters melaporkan pada November bahwa KKR dan Singtel tengah melakukan pembicaraan lanjutan untuk mengambil alih lebih dari 80% saham STT GDC, yang akan memberikan kendali penuh atas perusahaan.
Baca Juga: Konglomerasi Hong Kong CK Hutchison Gugat Panama ke Arbitrase Internasional, Ada Apa? Akuisisi ini menjadi transaksi merger dan akuisisi (M&A) terbesar di Singapura dalam empat tahun terakhir, sekaligus transaksi pusat data terbesar sepanjang sejarah Asia Tenggara. Kesepakatan tersebut mencerminkan melonjaknya permintaan komputasi berbasis kecerdasan buatan (AI) dan layanan cloud, di tengah persaingan ketat perebutan kapasitas pusat data, akses energi, dan skala operasional di Asia. Dalam transaksi ini, konsorsium yang dipimpin KKR akan membeli sisa saham STT GDC dari pemegang saham pendiri ST Telemedia, melalui STT Communications Ltd, anak usaha tidak langsung milik penuh Temasek Holdings. Setelah transaksi rampung, KKR akan menguasai 75% saham, sementara Singtel memegang 25%, dengan memperhitungkan konversi saham preferen yang dapat ditebus milik kedua investor.
Baca Juga: Harga Emas: Rekor Baru di Depan Mata? Analis Ungkap Pendorong Utamanya Pembayaran akuisisi akan dilakukan dalam dua tahap yang sama besar, dengan setengah dibayarkan saat penutupan transaksi dan sisanya sekitar satu tahun setelahnya, sebagaimana diumumkan Singtel kepada bursa. Untuk mendanai transaksi tersebut, konsorsium telah mengamankan fasilitas utang sekitar S$5 miliar, yang juga akan digunakan untuk belanja modal dan kebutuhan korporasi lainnya. Singtel sendiri berkomitmen menyuntikkan modal sebesar S$740 juta ke kendaraan investasi, yang akan dibiayai dari kas internal. Singtel menegaskan transaksi ini tidak akan berdampak material terhadap peringkat kredit maupun kebijakan dividen perusahaan. Didirikan pada 2014 dan berkantor pusat di Singapura, STT GDC mengoperasikan platform pusat data dengan kapasitas desain sekitar 2,3 gigawatt di 12 pasar utama di kawasan Asia Pasifik, Inggris, dan Eropa. Perusahaan menyediakan layanan co-location, konektivitas, serta dukungan operasional 24 jam.
Baca Juga: Nvidia Dekati Kesepakatan Investasi US$20 Miliar di Putaran Pendanaan OpenAI KKR dan Singtel pertama kali menanamkan investasi sebesar S$1,75 miliar di STT GDC pada Juni 2024. Saat ini, KKR memiliki sekitar 14% saham, sementara Singtel menggenggam lebih dari 4% sebelum transaksi ini. “Infrastruktur digital tetap menjadi salah satu tema investasi jangka panjang paling menarik secara global,” ujar David Luboff, Co-Head KKR Asia Pacific sekaligus Head of Asia Pacific Infrastructure KKR dilansir dari Reuters Rabu (4/2/2026). Ia menyebut kesepakatan ini sebagai peluang langka untuk mendukung platform berskala besar sekaligus memperdalam kemitraan dengan Singtel. Sementara itu, Temasek menilai transaksi ini sebagai tonggak peralihan kepemilikan yang membuka ruang akselerasi pertumbuhan.
Baca Juga: Apple TV Tetapkan Oktober sebagai Jadwal Tayang Film Mobil Mainan Mattel Matchbox “Kami menyambut babak baru STT GDC bersama KKR dan Singtel,” kata Ravi Lambah, Head of Strategic Initiatives Temasek.
Transaksi ini ditargetkan rampung pada awal paruh kedua 2026, dengan tetap menunggu pemenuhan persyaratan penutupan, termasuk persetujuan regulator. Citi bertindak sebagai penasihat keuangan utama sekaligus penyedia pembiayaan akuisisi bagi konsorsium KKR–Singtel.