Konsorsium riset migas akhirnya terbentuk



DEPOK. Konsorsium riset migas kelautan akhirnya terbentuk. Dr. Andang Bachtiar M. Sc., Dewan Energi Nasional mengatakan, hal ini bukanlah yang pertama. Riset eksplorasi migas sempat pernah digagas sepuluh tahun lalu namun sayang berhenti di tengah jalan.

Pemerintahan yang baru, Presiden Joko Widodo mendukung untuk membangun maritim Indonesia. Oleh karena itu, eksporasi migas maritim menjadi penting. Andang menjelaskan saat ini rasio minyak Indonesia masih sekitar 40%-50% sedangkan gas 90%. 

“Dalam ini masih bisa diusahakan untuk mencapai lebih dari 100% agar nantinya kita tidak bergantung dengan impor,” ungkapnya pada konferensi pers di Auditorium Djokosoetono Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Rabu (7/9).


Oleh karena itu, penting agar konsorsium riset ini terus berjalan dengan Luhut Binsar Panjaitan, Menko Bidang Kemaritiman sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Menteri ESDM, yang digadang-gadang akan menjadi pembina konsorsium. Riset dan eksplorasi maritim tak menutup kemungkinan nantinya juga melibatkan kapal-kapal pemerintah. Nantinya berbagai macam bentuk pendanaan akan dibahas dalam konsorsium.

“Kami berharap dalam waktu dua bulan bisa selesai sehingga dapat bergerak paling tidak di awal 2017,”ungkap Andang.

Eksplorasi migas di laut menjadi terobosan utama eksplorasi migas di Indonesia. Andang menjelaskan, saat ini status cekungangan migas Indonesia 70% berada di laut. Sebanyak 33% area cekungan laut tidak memiliki data sama sekali. Namun, bukan berarti 67% area cekungan laut yang sudah ada datanya dapat dipahami bagaimana kondisi sistem migasnya. Hal ini karena masih banyak yang harus dipelajari dan dievaluasi. Dengan adanya konsorsium riset migas kelautan nasional ini akan mempercepat temuan cadangan migas terutama di daerah offshore melalui sinergi berbagai kapasitas nasional untuk melakukan riset dan eksplorasi di laut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Rizki Caturini