Konsumennya berasal dari pemborong besar (1)



Sentra produksi batu bata di Pedurungan Kidul, Semarang ini ternyata tidak banyak dikunjungi pelanggan yang membeli secara eceran. Para pemilik pabrik batu bata ini hanya menjual dengan jumlah besar untuk industri dan pemborong. Nantinya, produk tersebut akan disuplai ke toko-toko bangunan di sekitar Jawa Tengah maupun ke kota-kota di luar Jawa Tengah.

Banyak pembuat batu bata yang telah berpengalaman bertahun-tahun lantaran  mewarisi tradisi dari generasi sebelumnya. Tidak heran kualitas batu bata buatan Pedurungan Kidul termasuk bagus. Batu bata buatan Pedurungan Kidul biasanya disebut batu bata penggaron. Produk dari daerah itu dinamakan demikian karena kualitasnya yang dianggap super dan kuat.

Ahmad Ajiono (47 tahun), salah satu produsen batu bata di sentra ini, menyampaikan bahwa banyak kontraktor proyek pembangunan perumahan kelas atas yang memesan dari jauh-jauh hari kepadanya langsung. Terkadang jika sedang mendapat pesanan dari proyek besar seperti itu, Ahmad dalam tiga bulan berturut-turut bisa hanya membuat bata pesanan.


Untuk urusan bahan baku, rata-rata pemilik batu bata ini menyewa areal tanah liat yang tidak jauh dari tempat pembakaran. Areal tanah liat ini hampir mirip dengan areal persawahan yang banyak ditemui di daerah ini. Bedanya areal persawahan untuk sentra ini tidak ditanami padi dan hanya berupa hamparan tanah liat yang dialiri saluran irigasi dari sungai.

Jadi bahan baku batu bata yang dibutuhkan produsen hanya tinggal diambil di area ini. Setiap pemilik usaha batu bata mempunyai areal tanah liat sendiri dan gubuk-gubuk besar sebagai tempat pembakaran.

Ajiono bilang, proses pembuatannya tidak sulit. Tanah liat hanya tinggal dilembutkan dengan air, kemudian dicampur serbuk gergaji kayu atau gambut dari kulit padi. Setelah itu adonan dasar dicetak dengan alat penekan persegi empat.

Para pengusaha yang masih menggunakan alat sederhana, sekali tekan bisa menghasilkan dua batu bata berukuran 10 cm x 10cm x 15 cm. "Kalau saya menggunakan mesin dengan kapasitas sekali tekan bisa menghasilkan lima batu bata," ujar dia.

Setelah selesai dicetak, batu bata dijemur hingga empat hari dan langsung dilanjutkan dengan proses pembakaran. Tahap pembakaran ini adalah proses yang paling menentukan. Jika pembakaran gagal, mereka harus mengulang proses dari awal dengan tanah liat yang baru. Alhasil, total waktu yang dibutuhkan Ajiono untuk satu kali memproduksi batu bata sekitar seminggu dengan kapasitas produksi sekitar 50.000 batu bata.

Sedangkan Kusyono Wadi (52 tahun), produsen lainnya, masih memproduksi batu bata dengan jumlah lebih sedikit. Saat ini, Kusyono telah memiliki mesin yang ia beli seharga Rp 20 juta.       n

(Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News