KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemerintah mengimplementasikan program mandatori biodiesel 50% atau B50 mulai 1 Juli 2026 kembali disorot. Sebab implementasi B50 dinilai tidak hanya sekadar menghitung efisiensi angka impor solar fosil, melainkan harus memperhitungkan potensi penurunan volume ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet menyatakan, potensi penghematan devisa dari program ini cukup beragam. Pemerintah memproyeksikan penghematan devisa naik menjadi Rp 139,8 triliun pada 2026, sedangkan Kementerian ESDM memperkirakan menyentuh Rp 157,28 triliun. Perbedaan ini terjadi karena B50 baru berjalan pada semester kedua tahun ini. "Angka Rp 139,8 triliun belum sepenuhnya mencerminkan dampak B50 selama satu tahun operasi penuh. Penghematan devisa umumnya dihitung dari sisi berkurangnya impor solar, padahal ada sisi lain yang juga perlu diperhitungkan, yakni potensi penurunan devisa ekspor CPO karena sebagian pasokan sawit dialihkan untuk kebutuhan biodiesel domestik," ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (28/5/2026).
Konsumsi CPO Domestik Naik, Dampak Devisa dari Implementasi B50 Perlu Dicermati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemerintah mengimplementasikan program mandatori biodiesel 50% atau B50 mulai 1 Juli 2026 kembali disorot. Sebab implementasi B50 dinilai tidak hanya sekadar menghitung efisiensi angka impor solar fosil, melainkan harus memperhitungkan potensi penurunan volume ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet menyatakan, potensi penghematan devisa dari program ini cukup beragam. Pemerintah memproyeksikan penghematan devisa naik menjadi Rp 139,8 triliun pada 2026, sedangkan Kementerian ESDM memperkirakan menyentuh Rp 157,28 triliun. Perbedaan ini terjadi karena B50 baru berjalan pada semester kedua tahun ini. "Angka Rp 139,8 triliun belum sepenuhnya mencerminkan dampak B50 selama satu tahun operasi penuh. Penghematan devisa umumnya dihitung dari sisi berkurangnya impor solar, padahal ada sisi lain yang juga perlu diperhitungkan, yakni potensi penurunan devisa ekspor CPO karena sebagian pasokan sawit dialihkan untuk kebutuhan biodiesel domestik," ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (28/5/2026).