Konsumsi dan Daya Beli Tertekan di Kuartal III, Pertumbuhan Ekonomi Bisa Melambat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah indikator belanja masyarakat menunjukkan pelemahan pada kuartal III-2026. Kondisi ini mengindikasikan perlambatan konsumsi rumah tangga di tengah tekanan daya beli akibat melemahnya persepsi terhadap kondisi ekonomi dan kenaikan harga kebutuhan.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai, perlambatan konsumsi rumah tangga pada kuartal III-2026 berpotensi menahan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2026 turun menjadi 118,1 dari 118,5 pada Agustus. Meski demikian, indeks tersebut masih berada di zona optimistis.


Baca Juga: Pemerintah Waspadai Ancaman El Niño terhadap Harga dan Inflasi Pangan

Sementara itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) melemah dari 109,4 pada Agustus menjadi 107,5 pada September 2026.

Pelemahan juga terlihat pada kinerja penjualan eceran. Bank Indonesia memperkirakan penjualan eceran September 2026 terkontraksi 2,3% secara bulanan atau month to month (mtm), berbalik dari pertumbuhan 0,8% mtm pada Agustus. Penurunan terutama dipengaruhi melemahnya penjualan kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

David mengatakan,  indikator big data BCA juga mencatat pertumbuhan transaksi bisnis dan konsumsi masyarakat yang lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

Ia merinci pertumbuhan indeks transaksi bisnis atau Intrabiz BCA melambat dari 9,4% secara tahunan atau year on year (yoy) pada Agustus menjadi 8,4% yoy pada September. Sementara itu, pertumbuhan konsumsi turun dari 1,8% yoy menjadi 1,4% yoy pada periode yang sama.

"Pelemahan sejumlah indikator belanja masyarakat sepanjang kuartal III-2026 mengindikasikan perlambatan konsumsi rumah tangga, sehingga berimplikasi pada perlambatan pertumbuhan ekonomi," ujar David kepada Kontan, Senin (12/10/2026)

Menurut David, secara keseluruhan, kinerja konsumsi masyarakat pada kuartal III-2026 diperkirakan lebih lambat dibandingkan kuartal II-2026.

Memasuki kuartal IV-2026, tekanan terhadap daya beli masyarakat diperkirakan masih berlanjut. Kenaikan harga minyak dan risiko El Niño berpotensi mendorong inflasi sehingga membatasi kemampuan belanja masyarakat.

Baca Juga: Kelas Menengah Makin Tertekan, Ekonom Usul PTKP Naik dan PPh 21 DTP Diperluas

"Sejumlah indikator saat ini mengindikasikan risiko perlambatan daya beli masyarakat, mengingat hingga kuartal IV-2026 belanja masyarakat dihadapkan pada tekanan inflasi akibat harga minyak dan terjadinya El Nino," jelasnya

Meski demikian, David menilai momentum belanja menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), serta pemberian stimulus fiskal pada kuartal IV-2026, berpotensi membantu menopang konsumsi masyarakat.

David memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,15% pada kuartal III-2026 dan melambat menjadi 5,01% pada kuartal IV-2026. Dengan proyeksi tersebut, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 5,26% sepanjang 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News