KONTAN.CO.ID - Konsumsi emas China pada 2025 tercatat turun 3,57% secara tahunan (
year-on-year/YoY) menjadi 950,096 ton, menurut pernyataan asosiasi emas yang didukung pemerintah pada Kamis (5/2/2026). Di tengah penurunan konsumsi, produksi emas dari bahan baku domestik justru meningkat. Output emas China naik 1,09% YoY menjadi 381,339 ton, kata asosiasi tersebut, menandakan aktivitas penambangan dalam negeri masih menunjukkan pertumbuhan.
Baca Juga: Peso Filipina Jadi Mata Uang Terkuat di Asia Kamis (5/2), Bagaimana Rupiah? Sementara itu, harga emas global menguat lebih dari 1% pada Kamis, bertahan di dekat level tertinggi satu pekan, didorong oleh ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global. Kenaikan juga terjadi pada harga perak dan paladium. Harga emas spot tercatat naik 1,1% ke level US$5.016,89 per ons pada pukul 00.39 GMT. Pekan lalu, emas sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di US$5.594,82 per ons. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April naik 1,8% ke US$5.036,80 per ons. Dari sisi geopolitik, Amerika Serikat dan Iran sepakat menggelar pembicaraan di Oman pada Jumat, meski kedua negara masih berselisih terkait ruang lingkup negosiasi. Washington menginginkan pembahasan mencakup program rudal Iran, sementara Teheran bersikukuh pembicaraan hanya terbatas pada program nuklirnya.
Baca Juga: Bursa Singapura Ngebut, Laba SGX Pecahkan Rekor Data ekonomi AS juga turut menopang harga emas. Laporan ADP menunjukkan penambahan tenaga kerja sektor swasta AS pada Januari hanya 22.000, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 48.000. Pelemahan pasar tenaga kerja biasanya memperkuat peluang penurunan suku bunga guna menopang pertumbuhan ekonomi. Presiden AS Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa suku bunga acuan AS akan diturunkan oleh Federal Reserve. Di saat yang sama, Mahkamah Agung AS tengah mempertimbangkan upaya Trump untuk mencopot Gubernur The Fed Lisa Cook, yang sebelumnya menilai kebijakan moneter saat ini hanya bersifat sedikit ketat dan memberi sinyal kehati-hatian dalam memangkas suku bunga lebih lanjut.
Baca Juga: Aksi Jual Saham Software Kian Dalam, Ancaman AI Hapus Hampir US$1 Triliun Nilai Pasar Pelaku pasar kini memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026, serta mencermati rilis laporan
Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) AS untuk Desember yang dijadwalkan terbit kemudian hari. Dalam lingkungan suku bunga rendah, emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) cenderung lebih menarik bagi investor sebagai aset lindung nilai.