KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan konsumsi masyarakat selama periode Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 diproyeksikan menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026. Pelaku usaha menilai momentum belanja musiman ini berpotensi menjaga laju ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) memperkirakan konsumsi rumah tangga selama libur Lebaran dapat meningkat sekitar 10%–15%. Peningkatan tersebut diyakini ikut memperbesar perputaran uang di masyarakat dan menopang aktivitas ekonomi pada awal tahun. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, menyebut lonjakan belanja masyarakat saat Lebaran kerap menjadi pendorong penting bagi pertumbuhan ekonomi kuartal pertama.
Baca Juga: Prabowo Tunda Kirim Pasukan Perdamaian BoP ke Gaza, Ini Alasannya “Perputaran uang selama perayaan dan libur Idul Fitri 1447 H dengan konsumsi rumah tangga yang melonjak rata-rata 10%-15% menjadi momentum untuk mengerek pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I-2026 yang ditargetkan sebesar 5,4% sampai 5,5%,” tutur Sarman dalam keterangannya, Senin (16/3/2026). Menurutnya, optimisme tersebut juga ditopang oleh rangkaian momentum konsumsi sejak awal tahun, mulai dari libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 hingga perayaan Tahun Baru Imlek pada Februari lalu. Dengan kombinasi momentum tersebut, Kadin menilai peluang tercapainya target pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tahun ini cukup terbuka. “Maka kami sangat optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 dapat mencapai target,” tambahnya. Kendati demikian, dunia usaha mengingatkan pemerintah perlu menjaga kepercayaan publik agar konsumsi tetap bergerak. Salah satu faktor yang dinilai krusial adalah kepastian pasokan energi selama periode Lebaran. Sarman menekankan pemerintah perlu memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dan gas agar masyarakat tetap percaya diri melakukan belanja. “Yang paling penting pemerintah dapat menjaga psikologi masyarakat dengan memberikan jaminan dan memastikan bahwa ketersediaan BBM dan gas selalu terpenuhi selama dan sesudah Lebaran 2026, sehingga masyarakat tidak ragu membelanjakan uangnya di daerah masing-masing,” sebutnya. Ia menambahkan, perhatian masyarakat terhadap dinamika geopolitik global juga berpotensi memengaruhi sentimen konsumsi, terutama terkait konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang berisiko mengganggu rantai pasok energi global. Diberitakan sebelumnya, pemerintah berupaya memaksimalkan momentum konsumsi melalui program Belanja di Indonesia Aja (BINA) Lebaran 2026 yang berlangsung pada 6–30 Maret 2026. Program ini digelar di lebih dari 400 pusat perbelanjaan dan sekitar 80.000 toko di seluruh Indonesia untuk mendorong transaksi domestik selama Ramadan hingga Lebaran. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah mengapresiasi konsistensi pelaksanaan program tersebut yang dinilai mampu menjaga daya beli masyarakat pada momentum hari besar keagamaan.
“Program ini menargetkan transaksi sekitar Rp53,38 triliun atau meningkat sekitar 20% dibandingkan tahun lalu,” ujar Airlangga dalam keterangannya, Selasa (10/3/2026). Melalui kombinasi lonjakan konsumsi musiman dan program stimulus belanja domestik, pemerintah berharap aktivitas ekonomi pada awal tahun tetap terjaga meski dibayangi risiko eksternal.
Baca Juga: Kemenhut Usul kepada Presiden untuk Menambah 21.000 Personil Polisi Kehutanan Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News