KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan konsumsi selama Ramadan dan Lebaran diperkirakan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal 2026. Namun, dorongan ini dinilai belum optimal karena tertahan berbagai faktor, mulai dari kecenderungan menahan belanja hingga tekanan harga kebutuhan pokok. Center of Economic and Law Studies (Celios) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,05% secara tahunan (
year on year/yoy).
Baca Juga: Konsumsi Lebaran Dongkrak Ekonomi ,Ekonom: Pelemahan Daya Beli dan Inflasi Mengintai Momentum musiman hari raya menjadi pendorong utama, terutama dari peningkatan belanja rumah tangga yang biasanya melonjak signifikan pada periode tersebut. Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, menilai konsumsi Lebaran tetap menjadi mesin pertumbuhan di awal tahun, meskipun belum mampu mendorong ekonomi ke level yang lebih tinggi. "Idealnya bisa di atas 5,5% yoy, tapi ada tantangan yang menahan konsumsi rumah tangga," ujarnya, Senin (30/3/2026). Salah satu faktor penahan adalah perubahan perilaku masyarakat yang cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan tunjangan hari raya (THR). Kekhawatiran akan kenaikan harga energi dan pangan setelah Lebaran membuat sebagian masyarakat memilih menyimpan dana, sehingga efek berganda konsumsi terhadap perekonomian menjadi terbatas.
Baca Juga: Konsumsi Lebaran Dorong Ekonomi Kuartal I-2026, Indef Ingatkan Itu Sementara Padahal, secara teori, peningkatan konsumsi saat Lebaran biasanya berdampak luas terhadap berbagai sektor, mulai dari perdagangan, transportasi, hingga jasa pariwisata. Tradisi mudik, misalnya, tetap memberi dorongan pada aktivitas ekonomi daerah, termasuk sektor wisata. Namun, dampaknya dinilai belum maksimal karena durasi tinggal wisatawan relatif singkat dan belum didukung promosi destinasi baru secara optimal. Di sisi lain, mobilitas tenaga kerja pasca, Lebaran juga belum sepenuhnya pulih. Terbatasnya lapangan kerja di perkotaan membuat arus balik tidak diikuti peningkatan signifikan pencari kerja, sehingga potensi konsumsi lanjutan di kota-kota besar menjadi terbatas. Ke depan, Bhima menekankan pentingnya menjaga daya beli masyarakat agar konsumsi tetap menjadi penopang pertumbuhan. "Pengendalian inflasi dan penciptaan lapangan kerja sangat krusial agar konsumsi bisa lebih kuat," katanya.
Baca Juga: Naik! Harga Emas Antam Logam Mulia Hari Ini Senin (8/12) Catat Ya! Meski ditopang konsumsi musiman di awal tahun, Celios memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi akan melambat pada kuartal II-2026 ke kisaran 4,7%–4,9% yoy. Perlambatan ini dipicu kombinasi tekanan eksternal dan domestik, seperti pelemahan nilai tukar rupiah serta kenaikan harga energi dan pangan.
Risiko tambahan juga datang dari potensi fenomena super El Nino dan krisis bahan baku pupuk yang dapat mengganggu produksi pangan nasional. Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan biaya hidup, terutama bagi kelas menengah, yang pada akhirnya menekan konsumsi. “Kita akan menghadapi cost of living crisis, sehingga banyak masyarakat menahan belanja dan lebih fokus menabung,” tutup Bhima. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News