Konsumsi Lebaran Dongkrak Ekonomi ,Ekonom: Pelemahan Daya Beli dan Inflasi Mengintai



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Momentum Lebaran 2026 diproyeksikan masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi domestik. Namun, pelemahan daya beli masyarakat dan tekanan inflasi membuat efek penggandanya tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya.

Peneliti Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Afaqa Hudaya, menilai sinyal perlambatan mulai terlihat dari turunnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia pada Februari 2026 menjadi 125,2 dari sebelumnya 127. 

Penurunan juga terjadi pada indeks ekspektasi konsumen dari 138 menjadi 134, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian rumah tangga terhadap prospek ekonomi.


Baca Juga: Jaga Stabilitas Rupiah, BI Bakal Ubah Batasan Transaksi Valas Mulai April 2026

“Meski masih di zona optimistis, penurunan ini menunjukkan adanya moderasi ekspektasi. Rumah tangga mulai lebih rasional dan selektif dalam konsumsi,” kata Afaqa dalam keterangannya, dikutip Selasa (17/3/2026). 

Ia menjelaskan, konsumsi selama Ramadan dan Lebaran tetap meningkat, tetapi lebih terkonsentrasi pada kebutuhan esensial seperti makanan, minuman, transportasi, dan komunikasi. Sementara belanja non-primer seperti pakaian, alas kaki, hingga jasa perawatan berpotensi tertekan.

Kondisi ini turut berdampak pada pelaku usaha, terutama sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). 

“Keterbatasan anggaran rumah tangga membuat konsumsi di luar kebutuhan pokok tertahan, sehingga sektor seperti fesyen dan jasa cenderung lebih terpukul,” jelasnya.

Baca Juga: BI: Inflasi Volatile Food Meningkat Imbas Kenaikan Harga Pangan dan Pupuk Global

Di sisi lain, tekanan inflasi menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Inflasi Februari 2026 tercatat mencapai 4,76% secara tahunan, didorong lonjakan komponen administered prices hingga 12,66% serta kenaikan harga pangan. Komoditas seperti beras medium, gula, dan minyak goreng menjadi penyumbang utama.

“Tekanan pangan masih persisten. Jika permintaan meningkat tanpa diimbangi pasokan, inflasi berpotensi kembali menguat menjelang Lebaran,” kata Afaqa.

Kendati demikian, tradisi mudik tetap akan mendorong perputaran uang ke daerah. Afaqa menyebut, redistribusi ekonomi ini mampu menghidupkan aktivitas ekonomi lokal, meski dampaknya terbatas pada sektor tertentu yang menjadi prioritas konsumsi masyarakat.

Namun, ia mengingatkan faktor eksternal juga berisiko menahan laju ekonomi. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi memicu fluktuasi harga energi dan menekan nilai tukar rupiah yang sudah berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS.

“Pemerintah perlu mengantisipasi dampak kenaikan harga energi, terutama BBM. Kenaikan kecil saja bisa memicu efek berantai terhadap harga barang lain,” ujarnya.

Baca Juga: Menhub Dudy Pastikan Harga Tiket Pesawat Lebaran 2026 Turun Hingga 20%

Secara keseluruhan, Afaqa menegaskan Lebaran tetap menjadi motor konsumsi yang menopang ekonomi nasional. Hanya saja, dorongan tersebut kini dibayangi perubahan perilaku belanja masyarakat yang lebih hati-hati.

“Lebaran masih akan menggairahkan ekonomi karena konsumsi tetap meningkat. Namun pola belanjanya berubah, lebih efisien dan fokus pada kebutuhan utama,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News