Konsumsi Makin Kuat, Penjualan Ritel Jepang Tumbuh 4% di Juli 2026



KONTAN.CO.ID - TOKYO. Penjualan ritel Jepang kembali mencatat pertumbuhan pada Juli 2026. Nilai penjualan ritel mencapai ¥ 13,88 triliun. Realisasi tersebut meningkat 4,0% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut sekaligus menunjukkan perbaikan dibandingkan Juni yang hanya tumbuh 0,6%. Hasil tersebut juga jauh lebih baik dibandingkan konsensus proyeksi ekonom, yang memprediksi penjualan ritel Juli hanya menguat 3,2%.

Menurut data yang dipublikasikan Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri alias Ministry of Economy, Trade, & Industry (METI) Jepang, (31/8/2026), penjualan ritel yang telah disesuaikan secara musiman meningkat 2,4% secara bulanan pada Juli. Pada Juni, penjualan ritel justru mengalami kontraksi 3,9% secara bulanan.


Kinerja ritel menjadi salah satu penopang peningkatan aktivitas perdagangan Jepang pada Juli. Secara keseluruhan, nilai penjualan perdagangan Jepang mencapai 58,373 triliun yen, naik 7,7% secara tahunan. Dari jumlah tersebut, penjualan grosir mencapai 44,492 triliun yen, tumbuh 9,0%.

Baca Juga: Hubungan AS-Taiwan Disebut Makin Kuat, Investasi Chip Capai US$265 miliar

Dengan demikian, pertumbuhan penjualan ritel masih lebih moderat dibandingkan sektor grosir. Namun, akselerasi pertumbuhan ritel pada Juli menunjukkan perbaikan momentum konsumsi domestik setelah mengalami pelemahan pada bulan sebelumnya.

Dilihat berdasarkan jenis usaha, pertumbuhan penjualan ritel terutama ditopang oleh penjualan kendaraan bermotor. Penjualan sektor tersebut melonjak 16,2% dibandingkan Juli tahun lalu.

Penjualan pada kategori ritel lainnya juga tumbuh cukup kuat, yakni 7,3%. Penjualan peralatan mesin dan perlengkapan meningkat 6,3%, sementara penjualan berbagai jenis barang, yang mencakup antara lain department store, tumbuh 3,1%.

Penjualan ritel tanpa toko, yang antara lain mencakup perdagangan melalui kanal non-toko, meningkat 2,9%. Penjualan obat-obatan dan kosmetik tumbuh 1,6%, sedangkan penjualan makanan dan minuman meningkat 1,1%.

Baca Juga: Bursa Asia Tertekan, Harga Minyak Melonjak di Tengah Konflik AS-Iran

Di sisi lain, sektor pakaian, tekstil dan aksesori masih mengalami tekanan. Penjualannya turun 6,6% secara tahunan. Penjualan bahan bakar juga belum menunjukkan pertumbuhan dan tercatat stagnan dibandingkan tahun sebelumnya.