Konsumsi Masyarakat di Kuartal II 2026 Tumbuh Lebih Tinggi, Terdorong Efek Low Base



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Konsumsi masyarakat pada kuartal II-2026 menunjukkan tren pertumbuhan yang lebih tinggi secara tahunan (year on year/YoY).

Berdasarkan Big Data PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Indeks Transaksi Belanja (Intrabel) tercatat tumbuh 11,6% YoY pada kuartal II-2026, meningkat dibandingkan pertumbuhan 8,8% YoY pada kuartal I-2026.

Meski demikian, peningkatan tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan penguatan daya beli masyarakat.


Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menjelaskan bahwa pertumbuhan konsumsi pada kuartal II-2026 lebih banyak dipengaruhi oleh efek basis perbandingan yang rendah (low base).

Baca Juga: Ditjen Pajak Bidik Pedagang Beromzet di Atas Rp 4,8 Miliar Lewat Data Marketplace

"Data pertumbuhan Intrabel di kuartal II sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal I, yakni 11,6% YoY dibandingkan 8,8% YoY. Namun, perlu diperhatikan bahwa pertumbuhan yang lebih tinggi ini karena ada efek low base," ujar David kepada Kontan, Minggu (5/7/2026).

Ia menjelaskan, terdapat dua faktor utama yang mendorong munculnya efek low base tersebut. Pertama, pergeseran momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri yang membuat konsumsi pada April tampak melonjak, sebagaimana juga tercermin pada data penjualan mobil dan sepeda motor.

Kedua, adanya efisiensi belanja pemerintah pada kuartal II tahun lalu sehingga basis perbandingan menjadi lebih rendah.

Meski mencatat pertumbuhan secara tahunan, David mengingatkan bahwa jika dilihat dari nilai nominal, transaksi belanja pada kuartal II-2026 justru lebih rendah dibandingkan kuartal I-2026.

Baca Juga: Dalami Isu PHK Tokopedia dan TikTok, Said Iqbal Akan Temui Manajemen dan Pekerja

"Namun, jika diperhatikan secara nominal lebih rendah dari kuartal I," katanya.

Lebih lanjut, David menyampaikan bahwa sejumlah indikator sektor riil masih menunjukkan gambaran konsumsi yang beragam pada kuartal II-2026. Menurutnya, belum seluruh indikator mengindikasikan penguatan konsumsi yang merata.

"Beberapa indikator riil menunjukkan konsumsi relatif mixed di kuartal II. Namun, secara historis konsumsi masih termasuk tinggi," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News