Konsumsi Masyarakat Mulai Datar, BI Dorong Ekonomi Domestik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) melihat kondisi ekonomi domestik masih cukup baik. Namun, konsumsi masyarakat mulai menunjukkan kecenderungan datar sehingga membutuhkan dorongan agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

Gubernur BI, Destry Damayanti mengatakan, konsumsi masyarakat menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian ke depan. Menurutnya, meski ekonomi domestik masih berada dalam kondisi yang cukup baik, konsumsi masyarakat mulai mengalami perlambatan.

“Nah di sini kita melihat ekonomi domestik kita masih oke, tapi memang masih perlu didorong lagi. Jadi konsumsi masyarakat yang mulai agak flattish gitu, nah ini perlu kita ada dorongan ke depan,” ujar Destry saat melakukan rapat kerja di DPD RI, Senin (14/9/2026).


Baca Juga: Konsumsi Masih Jadi Andalan Ekonomi, Namun Daya Dorongnya Mulai Berkurang

Ia mencatat, konsumsi swasta pada kuartal II 2026 tercatat sebesar 5,10% atau turun dari kuartal sebelumnya sebesar 5,54%. Kemudian konsumsi pemerintah juga turun menjadi 18,97% dari 21,81%.

Untuk mendorong pertumbuhan, Destry mengatakan sektor-sektor yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan akan menjadi prioritas dalam kebijakan BI ke depan.

“Oleh karena itu sektor-sektor yang menciptakan lapangan pekerjaan, itu menjadi tentunya prioritas, termasuk dalam program kami nanti yang ke depan, yang akan kami jalankan melalui kebijakan makroprudensial,” jelasnya.

Menurut Destry, penciptaan lapangan pekerjaan menjadi penting untuk menjaga momentum ekonomi domestik sekaligus mendorong konsumsi masyarakat.

Baca Juga: Konsumsi Masyarakat Naik, Porsi Tabungan Justru Turun pada Agustus 2026

Di sisi lain, aktivitas manufaktur Indonesia masih menunjukkan ekspansi. Destry mengatakan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur masih berada dalam fase ekspansi, meski mulai mengalami perlambatan. PMI Manufaktur RI mencapai 49,8 pada Agustus 2026 atau berada dalam zona kontraksi.

“Kemudian juga untuk produksi kita PMI, ini masih berada dalam fase ekspansi, tapi ada perlambatan, tapi masih ekspansi,” kata Destry.

Destry menambahkan, kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah yang perlu ditangani melalui sinergi antara BI dan kementerian/lembaga. Sinergi tersebut diperlukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi agar tetap berada pada jalur yang optimal.

“Nah inilah tentunya PR-PR yang akan kami dengan bersinergi dengan kementerian dan lembaga lain, akan menjaga pertumbuhan kita,” ujarnya.

Dengan berbagai kebijakan yang akan ditempuh, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 masih dapat berada dalam kisaran 5,2% hingga 6%.

"Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi kita ini masih bisa berada dalam range 5,2% hingga 6% dan kami cenderung akan berada di sisi optimalnya di kanan, dengan berbagai kebijakan yang akan kami ambil ke depan,” pungkas Destry.

Baca Juga: BI Siapkan Kebijakan untuk Dorong Sektor Riil dan Lapangan Kerja

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News