Kontan Kerja Nyata: Belajar Bersama Mengatasi Masalah Berton-ton Tumpukan Sampah



Menyelesaikan masalah tumpukan sampah berton-ton saban hari menjadi tantangan bersama bagi masyarakat Gentengkulon - 

Puluhan warga Desa Gentengkulon tampak antusias mengikuti pelatihan "Mengubah Sampah Menjadi Berkah" yang digelar KONTAN di Balai Desa Gentengkulon, Kamis (11/50 lalu.  Warga desa juga tampak bersemangat saat ikut mempraktikkan pembuatan ekoenzim dari sisa sampah organik.

Persoalan sampah memang menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Desa Gentengkulon. Maklum, saban hari, Gentengkulon menghasilkan sampah sebanyak 10 ton.


Pasar Genteng 1, misalnya, setiap hari menghasilkan sampah sebesar 3,5 ton. Sementara Pasar Genteng 2 menghasilkan sampah 3 ton per hari. 

Selain dari kedua pasar tersebut, Kepala Desa Gentengkulon Supandi mengatakan, sampah sebesar 500 kilogram dihasilkan dari kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Maron. Selebihnya berasal dari rumah tangga dan dari pelaku usaha lain. 

Menurut Supandi, Desa Gentengkulon sejauh ini baru bisa mengelola sekitar 20%-30% dari sampah yang ada. Sebagian besar merupakan sampah rumah tangga. Itu artinya, masih ada sekitar 7 ton sampah saban hari yang membutuhkan penyelesaian. 

Itu sebabnya, Pemerintah Desa Gentengkulon terus mendorong warganya untuk mengolah sampah. Salah satunya dengan memberikan bantuan tunai sebesar Rp 5 juta bagi kelompok  masyarakat (pokmas) yang mengadakan program pengolahan sampah. Dana tersebut merupakan bagian dari dana program ketahanan pangan.

Pokmas Soponyono, misalnya, sejak tiga bulan lalu telah memulai program pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot. Budidaya maggot tersebut dilakukan bersamaan dengan budidaya burung puyuh. 

Dias Pamungkas, Pengurus Pokmas Soponyono, mengatakan, bekas kotoran maggot bisa digunakan sebagai pupuk kompos. 

Sementara sebagian maggot yang dihasilkan dari sampah organik akan menjadi campuran pakan burung puyuh sehingga biaya pakan menjadi lebih hemat. 

"Untuk sementara, budidaya burung puyuh bisa menghasilkan telur puyuh sebanyak 8 kg per hari," ujar Dias Pamungkas.

Supandi berharap, setiap pokmas di Gentengkulon bisa merealisasikan program pengolahan sampah berbekal dana bantuan Rp 5 juta. "Insya Allah, tidak ada lagi sisa sayuran atau makanan di tempat sampah karena jadi makanan maggot," kata Supandi. 

Saat ini, Gentengkulon sudah  memiliki rencana untuk memanfaatkan lahan aset desa sebagai tempat pengolahan sampah. Lahan seluas 12.000 meter persegi tersebut terletak jauh dari pemukiman warga sehingga tidak akan mengganggu kenyamanan masyarakat setempat. 

Rencana tersebut sudah diusulkan kepada Bupati Banyuwangi. Supandi berharap, Bupati Banyuwangi bisa menyetujui rencana tersebut dan ikut membantu membangun fasilitas jalan menuju lokasi lahan tersebut.

Sebagai persiapan, Gentengkulon sudah memiliki alat pencacah sampah. Tim pengolah sampah Gentengkulon juga sudah mengikuti berbagai pelatihan. 

Nantinya, Supandi bilang, hasil pengolahan sampah akan dikembalikan kepada masyarakat. Antara lain dalam bentuk bantuan pembayaran iuran BPJS Kesehatan bagi warga tidak mampu. Program ini akan dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa tahun depan.

Supandi berharap, sampah di Gentengkulon kelak menjadi pemasukan ekonomi bagi warga. "Kalau sampah bisa diolah, orang Gentengkulon sebetulnya tidak perlu susah cari uang ke mana-mana," kata Supandi, Kepala Desa Gentengkulon.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Syamsul Azhar