KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Masyarakat Indonesia semakin memanfaatkan AI dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk mencari ide, membuat konten, dan mempelajari hal baru. Namun, manfaat AI bergantung pada cara penggunaannya yang transparan dan bertanggung jawab. Menurut Alfons Tanujaya, Pengamat Teknologi Informasi dan Ahli Keamanan Siber, perkembangan AI generatif yang sangat cepat memungkinkan pembuatan gambar dan video realistis dalam hitungan detik. “Oleh karena itu, tanggung jawab pengguna dan transparansi platform menjadi kunci utama dalam penggunaan AI yang aman dan bertanggung jawab,” kata Alfons dalam keterangannya, Senin (19/10/2026).
Alfons menekankan pentingnya peran manusia dalam penggunaan AI. Menurut dia, AI dapat membantu mengolah informasi dan mengembangkan ide, tetapi perspektif, empati, serta kemampuan analitis manusia tetap diperlukan agar hasilnya relevan dan berdampak positif. Untuk itu, ia mendorong agar kreator membiasakan diri menempatkan AI sebagai asisten, bukan pengganti manusia. Kreator perlu memastikan karya yang dihasilkan tetap mencerminkan perspektif dan keputusan orisinal, serta menghindari penggunaan AI untuk meniru gaya atau konten orang lain.
Baca Juga: Tokopedia dan TikTok Shop Catat GMV Tumbuh 37% pada Semester I-2026 Sementara itu, kreator Tiktok Theresa menilai transparansi sangat penting untuk menjaga kepercayaan audiens. Menurutnya, kreator perlu terbuka mengenai penggunaan AI dalam proses pembuatan konten. Kreator dapat mengaktifkan label AI sebelum mengunggah konten yang dibuat dengan bantuan teknologi tersebut. Tiktok telah memberikan label pada lebih dari 3 miliar video buatan AI di seluruh dunia melalui kombinasi Content Credentials, perangkat pelabelan kreator, dan teknologi tanda air tak terlihat. Dua tahun lalu, Tiktok juga menjadi platform video pertama yang menerapkan Kredensial Konten dari Coalition for Content Provenance and Authenticity (C2PA) untuk membantu mengidentifikasi konten yang dibuat atau diedit secara signifikan menggunakan AI. Manajemen Tiktok menyarankan kreator memilih perangkat AI sesuai kebutuhan. Tiktok menyediakan fitur AI Outline untuk membantu menyusun ide, kerangka konten, judul, tagar, dan pembuka yang menarik. Sementara itu, fitur Smart Split dapat memecah video panjang menjadi beberapa klip pendek. Di sisi lain, kreator Tiktok Evelyn Hutani menilai pengguna perlu memeriksa konten AI yang mencurigakan sebelum mempercayai atau membagikannya. Ia mendorong pengguna menerapkan prinsip 3C, yakni cek sumber dan konteks konten, cegah penyebaran informasi yang meragukan, serta cegat konten yang melanggar aturan melalui fitur pelaporan. Pengguna juga dapat mengatur jumlah konten buatan AI yang muncul di Tiktok melalui menu Pengaturan dan Privasi, Preferensi Konten, Kelola Topik, lalu Konten Buatan AI.
Baca Juga: TikTok Dorong Transaksi Bisnis Kuliner Selain itu, pengguna Tiktok perlu terus meningkatkan pemahaman mengenai AI seiring perkembangan teknologi. Tiktok bekerja sama dengan sejumlah mitra, termasuk National Association for Media Literacy Education (NAMLE) dan Henry Ajder, untuk menyusun panduan penggunaan AI yang bertanggung jawab. Tiktok juga mendukung organisasi seperti NoFiltr dan Raspberry Pi Foundation dalam meningkatkan literasi AI melalui konten edukatif. Sejak diluncurkan pada November 2025, program tersebut telah membantu organisasi mitra meraih lebih dari 200 juta tayangan melalui konten yang mendorong pemahaman dan penggunaan AI secara bertanggung jawab. Tiktok menilai pemanfaatan AI secara bijak membutuhkan tujuan yang jelas, pemilihan perangkat yang sesuai, keterlibatan manusia, kebiasaan memverifikasi informasi, serta kemauan untuk terus belajar. Dengan pendekatan tersebut, AI dapat mendukung kreativitas dan pembelajaran tanpa mengabaikan transparansi maupun tanggung jawab pengguna. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News