Kontraktor incar proyek rusunami



JAKARTA. Proyek rumah susun sederhana milik (rusunami) dan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) akan menjadi buruan para kontraktor tahun ini di samping proyek-proyek infrastruktur. Pasalnya, pemerintah terus menggenjot pencapaian program sejuta rumah.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mendapatkan alokasi Rp 101,4 triliun dari APBN 2017. Sebesar Rp 8 triliun dana tersebut akan digunakan untuk penyediaan perumahan. 

Pemerintah DKI Jakarta saja berencana membangun rusun sebanyak 24 tower di lima lokasi tahun ini yakni Nagrak, Rorotan IV, Penggilingan, Pulogebang dan Pesing dengan anggaran mencapai sekitar Rp 4,2 triliun.


Salah satu kontraktor yang mengincar proyek rusun yang dibangun pemerintah adalah PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Perusahaan pelat merah ini menargetkan kontrak baru sekitar Rp 1 triliun -Rp 1,5 triliun. 

Salah satu proyek yang sedang diincar WIKA adalah paket Nagrak tower 1-5. "Proyek tersebut baru evaluasi teknis saja," kata Suradi Wongso, Sekretaris Perusahaan WIKA pada KONTAN, Rabu (8/3).

Suradi bilang, target WIKA dari proyek rusun tahun ini tidak besar jika dibandingkan dengan total target kontrak baru mereka tahun ini yakni Rp 43,2 triliun. Hanya saja, WIKA juga membidik proyek-proyek pembangunan residensial highrise milik swasta yang semuanya akan digarap oleh anak usahanya PT Wika Gedung.

Tahun ini, WIKA menargetkan kontrak baru dari proyek gedung lebih dari Rp 4 triliun. Menurut Suradi, prospek proyek-proyek residensial vertikal tahun ini masih akan lebih bagus dari tahun lalu. "Baru-baru ini kita dapat proyek residensial higrise Trans Park Cibubur. 

PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk (DGIK) juga mengincar proyek-proyek rusun tahun ini. Saat ini, perusahaan konstruksi swasta ini sedang mengincar proyek rusun di Jakarta yakni paket Nagrak tower 1-5 serta paket penggilingan dan Pulau Gebang. 

"Kami membuka peluang terhadap semua jenis pekerjaan baik gedung maupun infrastruktur," ujar Almanda Pohan, Public Relation Corporate DGIK.

Tahun ini, DGIK menargetkan kontrak baru sebesar Rp 2,5 triliun. Sebesar 30% dibidik dari proyek infrastruktur dan 70% dari proyek gedung. Adapun tahun lalu, perusahaan hanya membukukan kontrak anyar sebesar Rp 963 miliar dan tidak ada proyek rusnami atau rusunawa dari pencapaian tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Rizki Caturini