Kontribusi PT Freeport Indonesia Tembus Rp 187 Triliun dalam Lima Tahun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peran sektor pertambangan dalam menopang penerimaan negara mendapat sorotan. Hal itu seiring konsistensi kontribusi pelaku industri di tengah dinamika harga komoditas global.

Salah satu kontributor utama berasal dari PT Freeport Indonesia (PTFI) yang berada di bawah holding Mind Id. PTFI tidak hanya berorientasi pada kinerja bisnis, tapi juga menjalankan fungsi strategis sebagai penyumbang penerimaan negara melalui dividen dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Veberapa tahun terakhir, kontribusi tersebut tercatat tetap signifikan, meski mengikuti fluktuasi siklus harga komoditas. Berdasarkan laporan keuangan tahun 2021–2025, kontribusi PTFI melalui dividen dan PNBP mencapai US$ 11,04 miliar atau sekitar Rp 187 triliun (kurs Rp17.000 per dolar AS).


Kontribusi tersebut didominasi dividen sebesar US$8,96 miliar, sementara PNBP mencapai US$2,08 miliar. Secara historis, kontribusi PTFI terus berada pada level yang tinggi mengikuti siklus harga komoditas global.

Pada tahun 2021, PTFI membagikan dividen sebesar US$ 234 juta dengan PNBP sekitar US$ 1,5 miliar. Kinerja melonjak pada 2022 dengan dividen mencapai US$ 3,07 miliar. Sementara PNBP sebesar US$ 145 juta.

Kontribusi kemudian mengalami penyesuaian pada 2023 dengan dividen US$ 708 juta dan PNBP US$ 140 juta. Pada  tahun 2024, kinerja kembali menguat dengan dividen US$ 2,95 miliar dan PNBP US$1 83,8 juta.  Sementara pada tahun 2025, dividen tercatat sekitar US$2,0 miliar dengan PNBP US$112,4 juta.

Baca Juga: Freeport Perpanjang Kontrak hingga 2061, RI Kantongi Tambahan Investasi US$ 20 Miliar

Ekonom Indef, Rizal Taufikurahman menilai, kontribusi PTFI mencerminkan peran strategis sektor tambang di bawah kelolaan negara dalam menopang penerimaan Indonesia. Terutama saat harga komoditas berada pada level tinggi.

“Kontribusi PTFI besar dan menjadi salah satu penopang penting penerimaan negara dalam beberapa tahun terakhir, terutama ketika terjadi boom harga komoditas. Ini menunjukkan kapasitas perusahaan dalam menghasilkan nilai ekonomi yang signifikan,” ujar dia, dalam keterangannya, Senin (13/4). 

Kendati demikian, ia melihat ke depan terdapat ruang penguatan dari sisi kebijakan fiskal agar manfaat tersebut bisa lebih stabil dan berkelanjutan. Optimalisasi tidak hanya terkait besaran kontribusi tapi juga bagaimana struktur penerimaan dapat semakin diperkuat melalui kebijakan hilirisasi pertambangan pemerintah melalui Mind Id

Ke depan, pemerintah dapat mendorong skema yang lebih adaptif. Seperti mekanisme berbasis windfall saat harga tinggi, memperkuat hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri, serta meningkatkan transparansi pengelolaan penerimaan.

"Dengan begitu, kontribusi besar dari pelaku usaha seperti PTFI bisa semakin berdampak bagi transformasi ekonomi nasional,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News