Kontrol Ekspor Cip Berpotensi Memangkas Investasi AI Global US$ 6 Triliun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan perdagangan dan kontrol ekspor cip berpotensi menjadi faktor penghambat investasi infrastruktur akal imitasi (AI) dunia. Ini terlihat dalam laporan PwC Global Data Center Outlook.

PwC memperkirakan, skenario pengetatan kontrol ekspor dapat menurunkan total investasi data center global hingga sekitar US$ 25,5 triliun pada 2050, atau sekitar US$ 6 triliun lebih rendah dibanding proyeksi dasar sebesar US$ 31,6 triliun.

Pada skenario tersebut, pengendalian ekspor yang sudah berlaku antara Amerika Serikat (AS) dan China meningkat hingga mencapai puncak intensitas perang dagang dan bertahan pada tingkat tersebut.


Bila ini terjadi, Graphics Processing Units (GPU) canggih akan menjadi lebih sulit diperoleh di berbagai pasar. Pembatasan balasan terkait bahan baku penting juga memicu hambatan di sepanjang rantai pasok semikonduktor.

Alhasil, ekspansi infrastruktur melambat dan menyempit. PwC menilai, meskipun semua wilayah merasakan dampaknya, pasar negara dengan akses cip yang aman adalah yang paling sedikit terdampak.

Baca Juga: Investasi Infrastruktur AI Global Diproyeksikan Tembus US$ 31,6 Triliun Hingga 2050

Dalam skenario ini, investasi tahunan diperkirakan turun hingga sekitar separuh proyeksi utama pada 2030 sebelum kembali pulih setelah rantai pasok menyesuaikan diri.  Pada 2050, capex tahunan melampaui angka skenario dasar sebesar 8% seiring pasar mengejar ketertinggalan.

Namun, kekurangan akumulatif selama periode 2026–2050 dapat mencapai sekitar US$ 6 triliun. Alhasil, kejadian ini akan mengurangi total capex global dari US$ 31,6 triliun menjadi US$ 25,5 triliun.

Bila ini terjadi, guncangan akan pertama kali dirasakan di pasar yang memiliki banyak pipeline proyek jangka pendek yang padat AI. Alasannya, proyek yang memiliki penggunaan GPU intensif adalah yang paling rentan terhadap keterbatasan akses cip.

Timur Tengah merupakan wilayah yang paling terdampak secara proporsional. Capex akumulatifnya bepotensi turun 29%, dengan dampak terkonsentrasi di Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab. China juga akan menjadi salah satu pasar yang mengalami guncangan terbesar.

Kawasan ASEAN juga akan terpengaruh. Indonesia akan menjadi negara yang paling terdampak di ASEAN, dengan potensi penurunan capex akumulatif untuk data center mencapai 26%. Capex data center di Thailand dan Filipina sama-sama akan turun 25%, di Malaysia turun 24%, dan di Vietnam turun 23%. Sementara di Singapura capex turun 12%.

Baca Juga: Harga Minyak Melambung Lagi Lebih dari 3% Setelah Serangan Baru Houthi ke Saudi

Akibatnya, capex akumulatif kawasan Asia-Pasifik akan turun dari US$ 8,2 triliun menjadi US$ 6,4 triliun. Kawasan Amerika mencatat penurunan nilai dolar terbesar, turun dari US$ 16,5 triliun menjadi US$ 13,8 triliun, akibat dampak jangka pendek terhadap porsi GPU dalam proyeksi infrastruktur AS.

Di sisi lain, fokus pada pembangunan infrastruktur digital domestik justru diperkirakan hanya sedikit mengurangi total investasi global, tetapi menggeser arah investasi ke negara-negara dengan pasar dalam negeri besar.