Konversi ke BBG, tantangan terberat Menteri ESDM



JAKARTA. Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara menyebut, tantangan terberat Sudirman Said sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) adalah krisis energi. “Sekarang ini bisa dibilang kita mengalami krisis energi yang menyebabkan triple defisit, defisit neraca perdagangan, defisit neraca pembiayaan, serta defisit neraca transaksi berjalan,” kata Marwan, Minggu (26/10) malam seperti dikutip dari Kompas.com. Atas dasar itu, lanjut Marwan, yang menjadi program penting Kementerian ESDM ke depan adalah mengurangi dampak negatif bahan bakar minyak (BBM) terhadap defisit. Sudirman Said sebagai Menteri ESDM di Kabinet Kerja diharapkan bisa meninjau ulang kebijakan subsidi BBM, serta meningkatkan bauran energi. “Misalnya kalau saat ini EBT (energi baru terbarukan) baru enam persen, bagaimana nanti di akhir pemerintahan menjadi 15 persen. Misalnya dengan menaikkan komposisi gas,” kata dia. Konversi BBM ke bahan bakar gas (BBG) sudah dicanangkan berulang-ulang, dari 2006, 2011, dan akhir tahun lalu. Namun menurut Marwan, yang dibutuhkan ke depan bukan sekadar pencanangan-pencanangan saja. “Kita harapkan ada blue print unutk program konversi lima tahun ke depan seperti apa. Misalnya, target pengguna BBG menjadi dua juta kendaraan,” imbuh Marwan. Untuk itu, Sudirman Said harus berkoordinasi dengan kementerian terkait seperti Kementerian Perindustrian dan lainnya. Menurut Marwan, program konversi BBM ke BBG selama ini hanya sekadar wacana tanpa realisasi. (Estu Suryowati)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Hendra Gunawan