Korea Selatan Akan Perluas Operasi Unit Anti Pembajakan Lebih Dekat ke Selat Hormuz



KONTAN.CO.ID - SEOUL. Korea Selatan berencana memperluas operasi unit anti-pembajakan Cheonghae ke perairan yang lebih dekat dengan Selat Hormuz. Kementerian Pertahanan Korea Selatan mengungkapkan, langkah ini dilakukan menyusul tekanan dari Presiden AS Donald Trump agar memberikan dukungan terkait situasi di Iran.

Mengutip Reuters, Kamis (5/10/2026), pemerintah akan mengajukan mosi ke parlemen untuk memperpanjang masa penugasan unit tersebut di Timur Tengah, yang sedianya akan berakhir pada penghujung tahun 2026, ujar seorang juru bicara kementerian, seraya mengonfirmasi laporan dari kantor berita Yonhap.

Unit Cheonghae telah ditempatkan di Teluk Aden sejak tahun 2009 untuk menjamin keamanan pelayaran kapal-kapal komersial.


Baca Juga: OpenAI Bidik IPO pada 2027, Mayoritas Pendapatan Kini Berasal dari Segmen Korporasi

Menurut lembaga penyiaran YTN, unit ini saat ini mencakup satu kapal perusak kelas 4.400 ton, satu helikopter operasi maritim, hingga tiga perahu karet lambung kaku (rigid-hull inflatable boats), serta sekitar 300 personel militer.

Mosi yang akan diajukan ke parlemen—yang juga memerlukan persetujuan dari Presiden Lee Jae-myung dan kabinet—ini bertujuan memperluas wilayah operasi unit tersebut hingga ke perairan dekat pelabuhan Duqm di Oman, yang berjarak sekitar 650 km (403 mil) dari Selat Hormuz.

Seoul juga akan mengerahkan pesawat patroli maritim P-8A dan menambah jumlah personel unit tersebut sebanyak 75 orang, lapor Korea Herald. 

Trump telah mengkritik Seoul karena dianggap kurang memberikan dukungan terhadap perang di Iran, serta mengurangi skala latihan militer gabungan antara angkatan bersenjata kedua negara pada musim panas ini—sebuah langkah yang membuat sekutu AS tersebut merasa resah.

Baca Juga: Demokrat Kuasai Kongres AS, Kebijakan Tarif Trump Sulit Dibatalkan

Menurut Kementerian Perindustrian, Korea Selatan sangat bergantung pada impor minyak, dengan 70% pasokannya berasal dari Timur Tengah pada tahun 2025, yang sebagian besar dikirim melalui Selat Hormuz.

Pada tanggal 18 September, Lee menyatakan bahwa ia tidak akan mengerahkan aset militer ke Timur Tengah dengan cara yang dapat menyeret negaranya ke dalam konflik, namun ia menambahkan bahwa Seoul tengah mempertimbangkan untuk mengambil peran yang lebih besar dalam menjaga keamanan pelayaran di kawasan tersebut.