KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Korea Selatan memutuskan untuk melanjutkan proyek restorasi jalur kereta api yang berpotensi menghubungkan Seoul dengan Kota Wonsan di pesisir timur Korea Utara. Langkah ini menghidupkan kembali proyek yang sempat terhenti selama hampir satu dekade, meskipun hubungan kedua negara masih membeku. Mengutip Reuters, Rabu (5/8/2026), Kementerian Unifikasi Korea Selatan menyatakan pemerintah akan kembali mengerjakan bagian jalur Gyeongwon Line yang terputus di dekat Zona Demiliterisasi (DMZ) di perbatasan Korea Utara. Proyek tersebut pertama kali diluncurkan pada 2015, namun dihentikan setahun kemudian di tengah memburuknya hubungan antar-Korea.
Menteri Unifikasi Korea Selatan, Chung Dong-young, menyampaikan dalam pengarahan kepada presiden bahwa pemerintah akan melanjutkan pemulihan jalur kereta tersebut sebagai bagian dari upaya jangka panjang membangun kembali konektivitas lintas perbatasan. Dalam keterangan resmi kementerian disebutkan bahwa jalur kereta yang berawal dari Seoul itu berpotensi menjadi penghubung menuju Wonsan, salah satu kota penting di pantai timur Korea Utara.
Baca Juga: Trump Klaim Negosiasi AS-Iran Berjalan Baik, Harapan Pembukaan Selat Hormuz Menguat Wonsan sendiri menjadi fokus pengembangan sektor pariwisata Korea Utara. Pemerintah di Pyongyang telah menggelontorkan berbagai sumber daya untuk membangun kawasan wisata pesisir Wonsan-Kalma, sebuah resor pantai berkapasitas sekitar 20.000 wisatawan yang mulai beroperasi tahun lalu. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyebut kawasan tersebut sebagai model pengembangan industri pariwisata negara itu.
Dilanjutkan Meski Hubungan Antar-Korea Masih Membeku
Keputusan Seoul melanjutkan proyek kereta ini muncul meski Korea Utara pada 2024 menghancurkan jalur jalan dan rel kereta yang melintasi perbatasan yang dijaga ketat. Langkah tersebut merupakan bagian dari kebijakan Pyongyang yang mendefinisikan Korea Selatan sebagai negara yang bermusuhan. Meski demikian, Kementerian Unifikasi menilai proyek restorasi jalur kereta akan memberikan manfaat bagi kawasan perbatasan. Pemerintah menyebut proyek tersebut akan meningkatkan akses menuju destinasi wisata perdamaian dan ekowisata di kawasan DMZ sekaligus mendorong aktivitas ekonomi di wilayah perbatasan. Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung juga mengakui bahwa upaya membangun kembali hubungan dengan Korea Utara tidak akan mudah, mengingat Pyongyang berulang kali menolak ajakan dialog dari pemerintahannya. "Hal itu mungkin terasa seperti berteriak ke dalam kehampaan tanpa gema," kata Lee dalam pengarahan tersebut. "Namun perdamaian dan hidup berdampingan tetap menjadi tugas yang penting. Betapapun sulitnya, kita harus terus menjalankan kebijakan tersebut," tambahnya.
Baca Juga: Bank Sentral India (RBI) Tahan Suku Bunga di 5,25%, Tunggu Kejelasan Arah Inflasi Dana Kerja Sama Antar-Korea Akan Dimanfaatkan Lebih Luas
Selain menghidupkan kembali proyek kereta api, Kementerian Unifikasi juga mengusulkan perluasan penggunaan Inter-Korean Cooperation Fund, dana pemerintah yang dibentuk untuk mendukung kerja sama, pertukaran, dan proyek kemanusiaan dengan Korea Utara.
Sejak sebagian besar program lintas perbatasan dihentikan pada 2016 menyusul uji coba nuklir dan rudal Korea Utara, hanya sekitar 2% hingga 3% dari dana tersebut yang digunakan setiap tahun selama satu dekade terakhir, menurut Chung. Lee mengatakan dana itu terus terakumulasi karena minimnya kesempatan untuk menggunakannya. "Karena itu, idenya adalah merevisi peraturan pelaksanaannya dan memperluas pemanfaatannya. Menurut saya itu masuk akal," ujar Lee. Chung menambahkan pemerintah juga akan mengupayakan perubahan regulasi agar dana tersebut dapat digunakan untuk mendukung proyek-proyek di wilayah perbatasan, inisiatif ekonomi perdamaian, kegiatan terkait reunifikasi, serta penelitian mengenai Korea Utara.