Korea Selatan Larang Ekspor Barang Strategis ke Rusia



KONTAN.CO.ID - SEOUL. Sejalan dengan langkah negara-negara Barat, Korea Selatan kini akan memperketat kontrol ekspor terhadap Rusia dengan melarang ekspor barang-barang strategis.

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan pada Senin (23/2) menyatakan, negeri ginseng akan memblokir beberapa bank Rusia dari sistem pembayaran internasional SWIFT.

Dilansir dari Reuters, Pemerintah Korea Selatan juga telah memutuskan untuk mempromosikan pelepasan tambahan cadangan minyak strategis untuk stabilisasi pasar energi internasional.


Baca Juga: AS dan Sekutu Bidik Sanksi Baru Bagi Rusia, Termasuk Larangan Akses SWIFT Bagi Bank

Selanjutnya, Korea Selatan akan meninjau lebih lanjut langkah-langkah lain seperti penjualan kembali gas alam cair (LNG) ke Eropa.

"Pemerintah Korea mengutuk invasi bersenjata Rusia ke Ukraina dan, sebagai anggota yang bertanggungjawab dari komunitas internasional, memutuskan untuk secara aktif berpartisipasi dalam upaya komunitas internasional, termasuk sanksi ekonomi, untuk penyelesaian situasi secara damai," ungkap Kementerian Luar Negeri Korea Selatan dalam pernyataan resmi.

Barang-barang strategis yang akan Korea Selatan kendalikan ekspornya adalah pasokan elektronik, semikonduktor, komputer, informasi dan komunikasi, sensor dan laser, navigasi dan avionik, serta peralatan kelautan dan dirgantara.

Baca Juga: Bantuan Bank Dunia ke Ukraina Diperkirakan akan Cair dalam Beberapa Hari

Bukan hanya itu, Kementerian Luar Negeri Korea Selatan memastikan, negaranya akan meningkatkan bantuan kemanusiaan ke Ukraina. Keputusannya ini bahkan telah secara resmi diberitahukan kepada Pemerintah AS melalui saluran diplomatik.

AS dan para sekutunya sepakat untuk memblokir akses bank-bank Rusia tertentu ke sistem pembayaran internasional SWIFT sebagai respons atas invasi negeri beruang merah ke Ukraina.

Langkah nyatanya akan diterapkan dalam beberapa hari mendatang. Pernyataan bersama telah ditulis oleh AS, para pemimpin Komisi Eropa, Prancis, Jerman, Italia, Inggris, dan Kanada.