KONTAN.CO.ID - SEOUL. Korea Selatan tengah mempersiapkan pengerahan aset militernya ke Selat Hormuz untuk mendukung kebebasan navigasi di jalur pelayaran strategis tersebut. Sejumlah media Korea Selatan melaporkan pada Kamis (3/9/2026), mengutip sumber pemerintah dan militer, bahwa Seoul menargetkan pengerahan tersebut dapat dilakukan sebelum akhir tahun ini.
Baca Juga: Penghormatan untuk Lionel Messi, Liga Argentina Hentikan Pertandingan di Menit ke-10 Pemerintah Korea Selatan juga disebut tengah menyiapkan prosedur untuk meminta persetujuan parlemen. Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah mengajukan mosi persetujuan kepada parlemen pada bulan ini setelah melalui pembahasan di kabinet. Beberapa opsi aset yang tengah dipertimbangkan mencakup pesawat patroli maritim, kapal pendukung logistik, hingga unit pendeteksi dan pembersihan ranjau. Dalam persiapannya, Korea Selatan juga disebut telah membahas skala serta bentuk kontribusi potensial tersebut dengan sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris dan Prancis. Namun, Kantor Kepresidenan Korea Selatan atau Blue House membantah bahwa pemerintah telah mengambil keputusan final mengenai pengerahan aset militer tersebut.
Baca Juga: Koin US$ 1 Bergambar Donald Trump Laris Terjual, Catat Sejarah Baru Di AS Blue House mengatakan, Seoul memang tengah membahas langkah-langkah praktis untuk berkontribusi terhadap kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Namun, laporan yang menyebut pemerintah telah menetapkan rencana pengerahan dinilai "berbeda dari fakta". Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan energi global dan harga minyak.
Isu pengerahan militer Korea Selatan ini juga muncul di tengah ketegangan hubungan Seoul dan Washington terkait perang di Iran.
Baca Juga: Beri Kesempatan Disinflasi, Waller Redakan Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam unggahan di media sosial pada Agustus mengatakan telah mengurangi skala latihan militer gabungan AS-Korea Selatan. Salah satu alasannya, menurut Trump, adalah Korea Selatan menolak membantu Amerika Serikat dalam perang melawan Iran.