KONTAN.CO.ID - Korea Utara memperingatkan Korea Selatan akan menghadapi konsekuensi setelah Seoul menuding Pyongyang berada di balik ledakan ranjau yang melukai personel militer Korea Selatan di Zona Demiliterisasi (DMZ). Korea Utara juga memperingatkan akan melakukan tindakan balasan jika pasukan Korea Selatan melepaskan tembakan ke arah tentara mereka di wilayah perbatasan.
Baca Juga: China Peringatkan Uni Eropa, Siap Balas Jika Perdagangan Dibatasi Peringatan tersebut disampaikan Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, melalui pernyataan yang dimuat kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, pada Rabu (30/9/2026) dilansir dari
Reuters. Kim menuding Korea Selatan berusaha membuat "bukti material" untuk mendukung tuduhan bahwa Korea Utara bertanggung jawab atas insiden ledakan ranjau tersebut. "Para dalang provokasi harus bersiap membayar harga atas sandiwara yang mereka buat sendiri," kata Kim, seperti dikutip
Reuters. Sebelumnya, Menteri Pertahanan Korea Selatan Kang Shin-chul mengatakan pada Selasa bahwa ranjau Korea Utara menyebabkan ledakan yang terjadi pekan lalu. Seoul juga menyatakan akan mengambil langkah "yang sesuai" sebagai respons. Ledakan pada 21 September tersebut melukai tiga personel Korea Selatan yang sedang melakukan misi pengintaian di dalam wilayah DMZ.
Baca Juga: Produksi Industri Jepang Turun 1,7% pada Agustus, di Bawah Ekspektasi Korea Selatan bersama Komando PBB yang mengawasi gencatan senjata Perang Korea masih melakukan penyelidikan terhadap insiden tersebut. Kang juga mengatakan terdapat kemungkinan Korea Utara memasang ranjau sebagai bagian dari upaya memperkuat perbatasan. Kim membantah pasukan Korea Utara telah melintasi Garis Demarkasi Militer yang membelah DMZ. Ia mengatakan pembangunan penghalang dan penguatan perbatasan yang dilakukan Korea Utara merupakan bagian dari kedaulatan negara dan tidak berkaitan dengan tujuan militer. Menurut Kim, Korea Selatan justru meningkatkan ketegangan dengan melepaskan tembakan peringatan dengan alasan pasukan Korea Utara melanggar garis perbatasan. Ia kemudian mengeluarkan peringatan bahwa Korea Utara akan langsung membalas jika pasukan mereka ditembak. "Ketika satu peluru mengenai wilayah kami, mereka harus bersiap menghadapi banyak hal," ujar Kim.
Baca Juga: Donald Trump Sebut Iran Akan Menyerah, tetapi Belum Tahu Kapan Aktivitas Korea Utara di sepanjang perbatasan, termasuk pembangunan penghalang dan pemulihan pos penjagaan, merupakan bagian dari perubahan kebijakan Pyongyang terhadap Seoul. Korea Utara kini secara terbuka memandang Korea Selatan sebagai negara yang terpisah dan "musuh", bukan lagi mitra untuk bekerja sama menuju penyatuan Semenanjung Korea. Insiden ledakan ranjau tersebut berpotensi semakin mempersulit upaya Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung untuk membuka kembali dialog dengan Korea Utara. Pemerintahan Lee sebelumnya berupaya memperbaiki hubungan dengan Pyongyang sekaligus mengurangi ketegangan militer di perbatasan.