KONTAN.CO.ID - SEOUL. Korea Utara dan Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda akan kembali membuka dialog. Informasi tersebut disampaikan anggota parlemen Korea Selatan setelah mendapat pengarahan dari badan intelijen Seoul. Meski demikian, belum ada konfirmasi mengenai adanya kontak langsung maupun pembicaraan resmi antara Pyongyang dan Washington. Anggota parlemen Korea Selatan Youn Kun-young mengatakan, peluang pertemuan tingkat tinggi antara pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dinilai masih terbuka.
“Mengenai pertemuan tingkat tinggi Korea Utara-AS, terdapat penilaian bahwa pembicaraan dapat dilakukan kapan saja,” kata Youn kepada wartawan dalam pengarahan yang disiarkan televisi, Selasa (1/9/2026).
Trump Berencana Bertemu Kim Jong Un
Sinyal kemungkinan kembali berlangsungnya dialog Korea Utara dan AS muncul setelah Trump pada bulan lalu menyatakan rencana bertemu dengan Kim Jong Un pada akhir tahun ini.
Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi Global Melonjak, Harga Minyak Tembus US$91 per Barel Rencana tersebut disampaikan setelah Trump memerintahkan pengurangan besar-besaran latihan militer tahunan antara AS dan Korea Selatan. Trump dan Kim sebelumnya telah bertemu sebanyak tiga kali pada 2018 dan 2019. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya diplomatik untuk membahas program nuklir dan hubungan antara kedua negara. Namun, hingga kini belum terdapat kepastian mengenai waktu maupun lokasi pertemuan baru antara Trump dan Kim Jong Un.
Putri Kim Jong Un Disebut Dipersiapkan sebagai Penerus
Selain perkembangan hubungan Korea Utara-AS, badan intelijen Korea Selatan juga menilai Kim Jong Un terus mengambil langkah untuk mempersiapkan putrinya, yang dikenal dengan nama Ju Ae, sebagai calon penerus kepemimpinan Korea Utara. Youn mengatakan, intensitas kemunculan Ju Ae dalam media pemerintah Korea Utara menjadi salah satu indikator yang diperhatikan oleh National Intelligence Service (NIS) Korea Selatan. “Alasan dia sering muncul di media pemerintah adalah karena dia dinilai sedang dalam proses ditetapkan sebagai penerus,” ujar Youn. Ju Ae dalam beberapa tahun terakhir semakin sering terlihat mendampingi Kim Jong Un dalam berbagai kegiatan kenegaraan dan militer. Kemunculannya tersebut telah memicu spekulasi mengenai kemungkinan perannya dalam garis suksesi kepemimpinan Korea Utara.
Korea Utara Disebut Kecil Kemungkinan Kirim Tambahan Pasukan ke Ukraina
Dalam pengarahan yang sama, NIS menilai kemungkinan Korea Utara mengirim tambahan pasukan ke Ukraina saat ini sangat rendah.
Baca Juga: Banjir Bandang Terjang Grand Canyon, 2 Orang Tewas dan Lebih dari 20 Hilang Youn menyebut NIS memperkirakan Pyongyang tidak memiliki rencana kuat untuk mengerahkan pasukan tambahan ke medan perang Ukraina. Penilaian tersebut muncul setelah Kim Yo Jong, adik Kim Jong Un, membantah pernyataan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengenai dugaan rencana Korea Utara mengirim hingga 50.000 pasukan tambahan ke Rusia untuk membantu sekutunya tersebut.
Keterlibatan Korea Utara dalam mendukung Rusia menjadi perhatian internasional, terutama terkait kerja sama militer antara Pyongyang dan Moskow.
Intelijen Korea Selatan Temukan Cetak Biru Rudal Korea Utara
Sementara itu, anggota parlemen Korea Selatan lainnya yang mendapat pengarahan dari NIS, Yoo Yeong-ha, mengatakan badan intelijen tersebut juga memperoleh cetak biru sebuah rudal Korea Utara. NIS juga disebut memperoleh dokumen internal yang berkaitan dengan partai berkuasa di Korea Utara. Namun, Yoo tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai jenis rudal yang dimaksud maupun isi dokumen internal tersebut.