Korea Utara: Kami Siap Melawan Semua Tantangan AS dengan Senjata Nuklir



KONTAN.CO.ID - SEOUL. Korea Utara pada hari Kamis (2/2) mengatakan siap mengambil reaksi yang lebih tegas menyusul semakin intensnya latihan militer gabungan antara AS dan Korea Selatan. Pyongyang bahkan tidak ragu untuk mengerahkan senjata nuklir jika memang diperlukan.

Menteri Luar Negeri Korea Utara meyakini bahwa kehadiran AS telah membuat situasi keamanan di semenanjung korea semakin buruk. Ketegangan pun bisa berlanjut akibat latihan militer bersama skala besar antara AS dan Korea Selatan.

"Ini adalah ekspresi yang jelas dari skenario berbahaya AS yang akan mengubah Semenanjung Korea menjadi gudang perang besar dan zona perang yang lebih kritis," kata sang menteri, seperti dikutip Yonhap dari Kantor Berita Pusat Korea (KCNA).


Baca Juga: Survei: 7 dari 10 Orang Korea Selatan Dukung Pengembangan Senjata Nuklir Independen

Lebih lanjut, pejabat Pyongyang itu juga menegaskan bahwa negaranya siap mengambil reaksi yang lebih kuat terhadap setiap aksi AS, bahkan jika itu melibatkan nuklir.

"Nuklir untuk nuklir dan konfrontasi habis-habisan untuk konfrontasi habis-habisan," ungkapnya.

Korea Utara mengatakan siap untuk melawan tantangan militer apa pun dari AS dengan kekuatan nuklir yang paling luar biasa. Disebutkan juga bahwa Pyongyang sama sekali tidak tertarik untuk berdialog dengan Washington selama negara Barat itu masih menunjukkan sikap permusuhan.

Korea Utara meluncurkan sekitar 70 rudal balistik di sepanjang tahun 2022. Korea Utara kini diprediksi akan melakukan uji coba nuklir dalam waktu dekat.

Baca Juga: NATO Meminta Korea Selatan Ikut Memberi Dukungan Militer ke Ukraina

Latihan Militer Gabungan AS-Korea Selatan

Beberapa jam sebelum pernyataan pejabat Pyongyang dirilis, AS dan Korea Selatan mengadakan latihan udara gabungan yang melibatkan pembom strategis B-1B, serta pesawat tempur siluman F-22 dan F-35B dari Angkatan Udara AS.

Mengutip Yonhap, dua sekutu itu juga berencana untuk mengadakan latihan table-top berbasis diskusi bulan ini untuk mempertajam tindakan pencegahan yang diperpanjang.

Pencegahan yang diperpanjang atau extended deterrence mengacu pada komitmen AS untuk menggunakan seluruh kemampuan militernya, termasuk nuklir, untuk membela sekutunya.